1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Jaga kesetabilan pasokan cabai, Kementan gandeng Banyuwangi

Ini upaya mengantisipasi agar lonjakan harga tersebut tidak terulang kembali, salah satunya menggandeng daerah penghasil komoditas cabai.

Ilustrasi transaksi jual beli cabai di pasar. ©2017 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Kamis, 09 Februari 2017 21:25

Merdeka.com, Banyuwangi - Sebagai upaya menjaga suplai cabai nasional serta menjaga stabilitas harga cabai, Kementerian Pertanian tahun ini membantu perluasan areal tanaman cabai di Banyuwangi.

“Banyuwangi ini salah satu sentra cabai terbesar nasional, kami akan terus dorong potensinya. Salah satunya kami akan berikan bantuan untuk perluasan area tanam agar pasokan cabai di Banyuwangi sebagai penyangga pasokan nasional tetap terjaga,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono, saat berkunjung di Banyuwangi, Kamis (9/2).

Sujono mengunjungi Banyuwangi selama tiga hari sejak 8-10 Februari. Sujono bersama tim dari Kementan mengunjungi sejumlah area tanam cabai rawit di Banyuwangi. Di antaranya Kecamatan Genteng, Cluring, Wongsorejo dan Purwoharjo.

Sujono mengatakan fenomena lonjakan harga cabai dalam kurun dua bulan terakhir ini cukup meresahkan masyarakat. Pihaknya terus berupaya untuk mencari solusi dan mengantisipasi agar lonjakan harga tersebut tidak terulang kembali.

“Saya sudah keliling ke berbagai daerah, terutama di Banyuwangi dan daerah Jawa Timur lainnya. Ternyata barangnya (cabai) ada, pasokannya cukup. Tapi mengapa lonjakan harga ini masih tetap berlangsung,” kata Sujono.

Karena itu menurut Sujono, salah satu solusi adalah dengan mengontrol rantai pasokan cabai. Saat ini Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian BUMN, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan kelompok tani di kawasan khusus.

“Selain itu saya juga meminta daerah turut aktif mengendalikan harga di daerahnya. Misalnya lewat skema kemitraan antara pemda dan petani. Pemda memberikan bantuan, saat panen petani bisa menjualnya langsung kepada Bulog. Ini perlu diatur hal semacam ini, jangan hanya pemain pasar yang menentukan harga, kita juga harus aktif, apalagi ada TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah),” kata Sudjono.

Sujono mengapresiasi potensi cabai di Banyuwangi. Menurut Sujono, Banyuwangi merupakan daerah dengan pertanian yang unik. Banyak komoditas pertanian dikembangan di daerah ini.

“Banyuwangi ini unik, semua keunggulannya dikembangkan. Tak hanya potensi pariwisatanya tapi juga pertaniannya seperti buah naga dan durian. Namun supaya potensi ini semakin berkembang, perlu dilakukan penataan yang jelas. Mana yang akan menjadi daerah pangan, hortikultura, kebun dan pertanian,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan mengatakan, pasokan cabai rawit di Banyuwangi hingga saat ini masih aman. Pada 2016 dari luas panen 3.596 hektare, produksi cabai rawit di Banyuwangi sebesar 25.863 ton. Untuk pasokan cabai saat ini produksi akhir terdapat 1022 hektare lahan dengan cabai siap panen 1226 ton cabai. ”Untuk pasokan cabai Banyuwangi sendiri sudah cukup,” kata Arief.

Untuk perluasan area tanam cabai rawit, Banyuwangi akan menambah lahan seluas 150 hektare yang tersebar di 10 kecamatan. Seperti Kecamatan Pesanggaran, Srono, Songgon, Bangorejo, Siliragung, Muncar, Rogojampi, Cluring, Tegal Dlimo dan Purwoharjo. Selain itu Kementerian Pertanian juga akan membantu untuk perluasan lahan cabai merah besar seluas 50 hektare.

“Jadi nanti lahannya milik petani, namun akan kami bantu penuh segala kebutuhan petani. Mulai dari bibit, pestisida hingga alat-alat pertanian yang mereka perlukan. Sebisa mungkin akan kami penuhi,” kata Arief.

Sebagai kontribusinya, para petani diminta untuk menjual hasil panennya pada pemerintah dengan harga yang telah disepakati bersama. Kesepakatan harga tersebut tertuang dalam Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ditanda tangani kedua belah pihak sebelum masa tanam dimulai.

“Tentunya harga yang kami tawarkan tidak akan merugikan petani. Karena harga break event point (BEP) mereka di kisaran Rp 15 ribu, kami bisa membeli dengan harga Rp 35 ribu, Dengan harga ini petani tetap untung, harga pasar juga tetap bisa dikendalikan,” kata Arief.

(FF/MUA)
  1. Pertanian
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA