1. BANYUWANGI
  2. PROFIL

Sugiarto, pendiri warung gratis untuk anak yatim piatu di Banyuwangi

"Dari SD sudah jualan pisang goreng dan sayuran, di jalan-jalan dan sekolah," kata Sugiarto.

Sugiarto. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Rabu, 28 September 2016 15:32

Merdeka.com, Banyuwangi - Dalam berwirausaha, Sugiarto punya prinsip: "Ketika kita mau berbagi kepada Anak yatim piatu, maka akan semakin mendatangkan rejeki". Prinsip Sugiarto memang tidak bisa dilogikakan secara secara matematis. Tapi dia mempercayai itu.

Warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon, ini sudah satu tahun mendirikan Kedai Batok bersama istrinya di Perumahan Puri Brawijaya Permai, tepatnya di blok Q Nomor 9, Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi.

Lewat usaha beragam kuliner dan minuman di Kedai Batok ini lah, Sugiarto mempraktikkan gagasannya untuk belajar berbagi kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa.

Pria kelahiran 1982 ini baru saja menyelesaikan studi S2-nya di Universitas WR Supratman Surabaya, Jurusan Manajemen. Menariknya, pekerjaan sampingan yang menghantarkannya sampai wisuda yakni kedai batok itu.

Sejak SD, Sugiarto mengaku sudah mengenal dunia berdagang hingga kuliah. "Dari SD sudah jualan pisang goreng dan sayuran, di jalan-jalan dan sekolah. Saat SMP saya merawat sapi, kambing ayam. Sekolah di SMK jualan kerupuk, mie ayam, dan pernah jual es di pinggir jalan," ujarnya.

Mengerti bagaimana susahnya mencari uang dan tidak bergantung pada orang tua. Dari situ, Sugiarto punya motivasi besar untuk berbagi kepada anak yatim piatu.

"Saat kuliah, pernah juga jadi penyetor kembang ke hotel-hotel. Di Jember pernah jual pete, bawa ke Songgon, Bali, pernah buka home industri keripik dan sayur keliling. Pokok waktunya habis untuk bekerja," ujar sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Palapan Nusantara, Surabaya ini.

Tidak hanya mendirikan Kedai Batok. Setelah menyelesaikan study-nya, saat ini dia juga berupaya mengajak masyarakat Desa Bayu untuk mandiri mengelola potensi wisata yang ada di desanya.

Di Songgon, Sugiarto mendirikan rumah baca bernama Kang Zalma (nama almarhum ayahnya) untuk anak-anak di desanya. Dia juga mengajak masyarakat untuk mengelola wisata air terjun Pertemon, wisata kintir-kintiran (semacam arung jeram, namun menggunakan media ban dalam), bank sayur dan sedekah untuk anak yatim.

"Konsepnya nanti, di rumah saya jadi pusat informasi wisata. Jadi wisatawan mampir di rumah baca dulu sebelum ke lokasi wisata," ujarnya. Alamatnya, di Jalan Wana Wisata Rowo Bayu, Dusun Sambung Rejo, RT 3 RW 01, Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

Dalam wisata Kintir-kintiran, bakal ada arena bermain Anak-anak serta pengunjung di sungai Pertemon, menggunakan media ban dalam.

"Kintir-kintiran saya pengen melatih anak di desa supaya berani. Dan tamu yang datang bisa makan dan mancing di sana. Ada paket nasi bakar," ujarnya.

Sementara bank sayur, saat ini sudah berjalan. Sistemnya, warga hanya menyediakan lahan untuk ditanami beraneka jenis sayuran. Semua manajemennya dan modal, dari kelompok bank sayur yang diketuai oleh RT setempat.

Dari situ, warga bisa mendapat jaminan peminjaman uang maksimal Rp 100 ribu dan memanfaatkan sayur untuk kebutuhan dapur.

Belum lagi soal sedekah anak yatim. Sugiarto, menggerakkan warga agar mau menyumbangkan panen hasil bumi, rongsokan, ayam dan sebagainya untuk dijual sebagai biaya untuk santunan.

"Paling tidak 3 bulan sekali, alhamdulilah respon warga sangat mendukung. Bahkan desa dan kecamatan juga siap membantu. Memberi respon positif," ujarnya.

(MT/MUA)
  1. profil
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA