1. BANYUWANGI
  2. SENI DAN BUDAYA

Sanggar Seni Singo Barong, kuatkan identitas kesenian Banyuwangi

Tak hanya melestarikan seni Barong, ia juga memproduksi alat kesenian ini.

Suripto dan barong buatannya. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Jum'at, 06 Mei 2016 15:09

Merdeka.com, Banyuwangi - Suripto sejak kecil sudah mengenal kesenian barong di kampung halamannya, Songgon. Setiap pertunjukan barong, Suripto seringkali mengamati bagaimana kesenian tersebut dimainkan. Bentuk barong yang memiliki ciri khas mata, mulut dan gigi yang besar serta bersiung tampak meyeramkan. Bahkan anak kecil pun dilarang bermain-main dengan alat seni barong.
 
Meski mulanya sebatas penikmat seni barong, Suripto sudah memiliki banyak angan-angan untuk memperbaiki citra kesenian barong. Salah satunya melakukan eksperimen bagaimana pertunjukan seni barong ditampilkan dengan gaya baru, agar perempuan bisa dilibatkan menjadi penari barong. Suripto juga menciptakan barong model baru, khas Banyuwangi bernama barong reog.

Sanggar Seni Singo Barong milik Suripto
© 2016 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab



Pria kelahiran 1959 ini mulai menekuni dunia seni barong sejak tahun 1999. Meski belum memiliki alat pertunjukan kesenian barong, Suripto coba membuat sanggar seni bernama Suro Wencono di Kelurahan Singoturunan, Banyuwangi. Salah satu caranya, dia menawarkan bentuk pertunjukan barong yang baru.
 
“Tiap orang yang nanggap barong itu pasti ada kuntulan dulu di sini. Terus saya mikir bagaimana orang sekali nanggap enggak pakai kuntulan. Akhirnya jadi barong kuntulan tahun 1999. Jadi tabuhannya (musiknya) kuntulan, tariannya barong,” ujarnya kepada Merdeka Banyuwangi, Minggu (1/5).
 
Selain memberi inovasi pertunjukan baru, penggabungan musik kuntulan dengan pertunjukan seni tari barong, Suripto juga menawarkan bentuk tarian baru bernama barong dance.
 
“Jadi penari barong tidak hanya laki-laki saja. Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga bisa menari barong, jadi saya ciptakan namanya tarian barong dance. Meskipun pekerjaan laki-laki, isun wadon yo iso (saya perempuan juga bisa). Barongkan laki-laki yang joget, tapi perempuan juga bisa. Jadi tidak berbatas laki laki dan perempuan,” lanjutnya.

Alat kesenian barong di Sanggar Seni Singo Barong
© 2016 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab


Melalui sanggar seni Suro Wencono, Surip mulanya hanya menyewa alat seni barong beserta perlengkapan musiknya. Meski begitu, dia sudah mendapat tawaran tanggapan. Modal membuat barong dia mulai saat ada orang yang nanggap, langsung membayar lunas sebulan sebelum hari pertunjukan. “Waktu itu Rp 700 ribu, jadi saya kejar buat barong. Awalnya alat musiknya juga nyewa,” ujarnya.
 
Suripto sudah mulai memiliki perlengkapan pertunjukan barong lengkap saat dibantu oleh LPMK Singoturunan, Banyuwangi. Salah satunya dibantu untuk kelengkapan peralatan musik agar Suripto tidak lagi menyewa. Sejak saat itu, Suripto sudah mulai menjalani profesi sebagai penari barong sekaligus menerima tawaran pertunjukan seni barong.
 
Mulai memproduksi alat seni barong
 
Usai bergelut dengan pertunjukan seni barong sejak 1999, Suripto mulai mencoba memproduksi alat pertunjukan seni Banyuwangi pada 2007. Bakat Suripto membuat alat seni barong, dia kembangkan lagi untuk membuat alat seni lain seperti kucing-kucingan, omprok gandrung dan pitik-pitik,an. Hasil kerajinan tangan tersebut, lantas dijual untuk masyarakat umum, mulai usia Anak-anak sampai dewasa. Sanggar seni yang mulanya bernama Suro Wencono diganti dengan Singo Barong.
 
“Dulu awalnya cuma beli ayam ayaman, kucing kucingan di acara-acara itu. Terus tak lihat, bagaimana to cara buatnya,” ujarnya.  
 
Setelah bisa membuat alat kesenian, Suripto, lantas berpikir. Dia ingin mendekatkan lagi kesenian khas Banyuwangi dengan dunia Anak-anak. Apalagi barong, kata Suripto, sering dilekatkan dengan nilai mitos seram, angker dan berbahaya untuk Anak-anak.
 
“Anak anak kan takut, karena gak boleh sama yang punya. Ada jinnya katanya padahal gak ada. Takutnya kalau anak-anak itu barangkali kuek-kuek (otak-atik) catnya gopel (rusak), beli cat jauh. Nah, jadi saya itu ingin menghilangkan itu. Makanya saya buat barong itu untuk anak sejak usia TK sampai dewasa. Anak kecil itu biar tidak takut sama barong,” jelasnya panjang lebar.  

Barong Rogo di Sanggar Seni Singo Barong
© 2016 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab


Bila anak-anak sudah dekat dengan kesenian barong sejak dini bisa membuat anak mudah mempelajari seni barong. “Gimana ini anak kecil tidak takut sama barong. Lebih dekat sama seni. Jangan sudah dewasa baru belajar, akhirnya kaku. Gak bisa tari barong, soalnya kaku. Tapi kalau mulai kecil gini kan enak. Makanya saya buatkan mulai dari TK,” tegasnya.  
 
Selain itu, Suripto juga menciptakan jenis alat seni barong baru bernama barong rogo. Hasil kreasinya tersebut dia lakukan untuk memperkaya identitas kesenian barong di Banyuwangi.
 
“Saya menciptakan barong, namanya barong rogo. Kalau di ponorogo ada reog ponorogo. Kalau Banyuwangi harus ada juga namanya barong rogo, Banyuwangi harus ada,” jelasnya.

Barong rogo ciptaan Suripto sudah dipesan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi untuk dipamerkan secara permanen, salah satunya di tiap-tiap hotel. “Dispar itu juga sudah memesan dan membeli 20 biji dari saya untuk ditempel di hotel-hotel,” ujarnya.

Suripto dan Barong Rogo buatannya
© 2016 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab



Suripto menambahkan, barong rogo memiliki ciri khas sayap yang panjang-panjang. Uniknya ia menciptakan dari refleksi cerita rakyat.
 
“Ini sada sejarahnyanya, antara prabu wiyayu (Banyuwangi) sama prabu bali perang. Bali jadi leyak, ini jadi barong. Terus saya bentuk seperti gini,” ujarnya.

(FF/MUA)
  1. Seni dan Budaya
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA