1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Rabu pungkasan, nelayan Selat Bali gelar selamatan dan buang kesialan

"Kegiatan rutinitas di Bulan Sapar di Rabu terakhir, untuk tolak balak dan tasyakuran. Ke depan ingin melestarikan budaya".

nelayan pantai Waru Doyong. ©2018 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Rabu, 07 November 2018 11:43

Merdeka.com, Banyuwangi - Ratusan nelayan pantai Waru Doyong, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi di pesisir Selat Bali tampak duduk bersama di atas pasir pantai untuk berdoa bersama, meminta kepada Tuhan agar dijauhkan dari malapetaka dan diberi hasil melaut yang melimpah. Selamatan tersebut, rutin digelar setiap datangnya hari Rabu Wekasan, hari terakhir dalam penanggalan Kalender Islam di Bulan Safar.

Tidak hanya nelayan di Pantai Waru Doyong, di sepanjang pesisir selat Bali pada hari Rabu Wekasan, nelayan juga menggelar selamatan petik laut untuk membuang sial dan memohon diberi hasil melaut melimpah.

"Kegiatan rutinitas di Bulan Sapar di Rabu terakhir, untuk tolak balak dan tasyakuran. Ke depan ingin melestarikan budaya, dan bisa dikasih rejeki melimpah," ujar Sujarno (51), Ketua Panitia Rabu Wekasan Pantai Waru Doyong, Rabu (7/11).

Usai menggelar doa bersama, nelayan menyiapkan perahu layar mini yang sudah berisi hasil bumi (polo pendem), jajanan pasar dan satu buah kepala kambing. Sesaji tersebut kemudian dilarung ke tengah laut, diantar menggunakan perahu bersama nelayan dan dua penari gandrung.

"Dari dulu acara petik lautnya ya di sini. Sudah turun temurun. Semoga hasil nelayan ke depan bisa lebih banyak, dijauhkan dari malapetaka," kata Sujarno.

Di kawasan Pantai Warudoyong, saat ini terdapat 324 nelayan yang rutin melaut dengan alat tangkap pancing. "Di sini khusus pakai alat tangkap pancing, tidak pakai alat tangkap lainnya, mulai dari Cacalan sampai Ketapang," katanya.

Kegiatan tradisi ini juga dilengkapi hiburan rakyat Seni Jaranan dan lomba perahu layar. Sebelum menggunakan mesin untuk motor penggerak perahu nelayan, sebelumnya memanfaatkan energi angin dengan membentangkan layar di perahunya.

Kali ini, dalam rangkaian tradisi Rabu Wekasan tersebut, para nelayan bernostalgia dengan menggelar lomba perahu layar yang diikuti 75 perahu dari Jawa dan Bali.

"Peserta akan menyeberang ke Gilimanuk, Bali, kurang lebih perjalanan membutuhkan waktu 25-30 menit, tergantung arus dan kecepatan angin," jelasnya.

Sementara itu, tradisi Rabu Wekasan di Pantai Warudoyong juga dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko. Dalam sambutannya, Yusuf datang untuk mendukung terselenggaranya tradisi masyarakat tersebut, dengan harapan bisa terus dilestarikan.

"Rabu pungkasan, terakhir menjelang (bulan) Maulid. Rabu terakhir. Warga Bulusan, Warudoyong semoga nelayan kerja selamat, dan dapat hasil melimpah. Juga ada perahu layar menyebrang dari Pantai Warudoyong menuju Gilimanuk Bali, pulang-pergi, secara resmi dibuka dan dimulai," katanya.

(ES/MUA)
  1. Seni dan Budaya
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA