1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

PVMBG nyatakan longsor besar di lereng raung merupakan bencana alami

"Lokasi longsor cukup jauh dari permukiman, sekitar 11 kilometer. Kondisi alamnya sedemikian ekstrem," kata Imam.

Perekayasa Madya PVMBG Bandung Imam Santosa. ©2018 Merdeka.com Reporter : Mohammad Taufik | Selasa, 22 Mei 2018 16:07

Merdeka.com, Banyuwangi - Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG) Bandung menyatakan bencana longsor besar bukit Pendil di Pegunungan Raung disebabkan peristiwa alami.

Hujan dengan intensitas tinggi 9 bulan lalu dianggap sebagai penyebab utama longsornya bukit Pendil di kawasan hutan lindung, berada di perbatasan KPH Banyuwangi Barat dan KPH Bondowoso. Hujan deras pula
yang membawa material lumpur, pasir dan kayu hanyut di sungai Badeng hingga menyebabkan banjir bandang di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Selasa (15/5) malam.

Kepada Merdeka Banyuwangi, Perekayasa Madya PVMBG Bandung Imam Santosa mengatakan titik terjadi longsor merupakan hutan lebat yang berisi tanaman keras. Dia memastikan longsor bukan karena penebangan kayu besar-besaran atau alih jenis tanaman.

"Lokasi longsor cukup jauh dari permukiman, sekitar 11 kilometer. Kondisi alamnya sedemikian ekstrem, karena orang juga tidak pernah ada yang ke sana," kata Imam di Kantor Pemkab Banyuwangi, Selasa (22/5).

Dia mengatakan jarak yang jauh membuat longsor tidak menjangkau permukiman warga. Menurutnya potensi bahaya justru bila ada hujan deras yang menyebabkan aliran air membawa material lumpur, kayu dan pasir dalam banjir bandang Sungai Badeng.

Untuk itu pihaknya merekomendasikan dibangunnya forum tanggap bencana di sepanjang aliran sungai Badeng. Sehingga bila ada hujan dengan intensitas tinggi di hulu, bisa segera memberi peringatan kepada masyarakat di sepanjang sungai.

"Seperti yang kemarin kan, di Rogojampi dan Singojuruh tidak ada hujan, namun terkena banjir bandang sungai Badeng," kata Imam lagi.

Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Fajar Suasana mengatakan kesiapsiagaan atas kejadian darurat memang harus diperhatikan. Dia mengatakan telah menggelar pelatihan untuk para relawan tanggap bencana untuk menghadapi kondisi darurat.

""Mitigasi struktural biayanya sangat besar dan butuh waktu. Jadi dalam waktu dekat yang paling memungkinkan adalah normalisasi atau perbaikan dan sungai," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, air sungai Bandeng di Kecamatan Songgon yang dulu jernih kini berubah berwarna menjadi cokelat kemerahan selama 9 bulan. Dari aliran hulu itu, air merah bercampur material batu, pasir,
tanah, dan lumpur mengalir sampai ke muara Selat Bali di Kecamatan Blimbingsari.

Material tersebut berasal dari longsoran di bukit Pendil di Gunung Raung disebabkan pergerakan bumi yang terjadi di lahan dengan kemiringan 45 derajat itu. Area masih termasuk hutan lindung dengan pohon-pohon berdiameter lebih dari 1 meter, yang turut ambrol terkena longsor.

(MT/MT) Laporan: Ahmad Suudi
  1. Info Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA