1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Ratusan pebalap Tour de Ijen akan pakai sarung dan kopiah

Selain budaya pesantren, pebalap dan wisatawan juga disuguhi sejumlah destinasi seperti Pantai Watudodol, Bangsring Underwater dan Dusun Kakao.

Bupati Anas. ©2017 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Senin, 25 September 2017 09:51

Merdeka.com, Banyuwangi - Ajang Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) sebentar lagi akan kembali digelar pada tanggal 27-30 September besok. Ratusan peserta ITdBI dari 20 negara akan dikenalkan cara berpakaian sarung dan kopiah khas Nusantara.

Pagelaran ITdBI sudah berlangsung tiap tahun sejak 2012, dan selalu menampilkan rute-rute potensi lokal yang dimiliki Banyuwangi. Setiap etape, menyajikan jalur yang melintasi keindahan pariwisata.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyampaikan, tahun ini, tidak hanya keindahan wisata alam yang ditunjukkan dalam ajang ITdBI.

Para pebalap akan disajikan berbagai potensi seni budaya yang dimiliki Banyuwangi. Seperti rute yang melintasi kesenian tari, musik hingga sensasi mengenakan sarung dan kopiah bersama para santri saat di jalur start pondok pesantren.

"Kami akan kenalkan budaya pesantren ke publik global. Ini memang saya minta khusus, sekaligus menjadi kampanye ke dunia bahwa Islam adalah agama yang toleran," ujar Anas usai rapat koordinasi di Kantor Pemkab Banyuwangi, Sabtu (23/9).

Saat dikenalkan memakai sarung dan kopiah khas Nusantara, selain mencoba para pebalap juga bakal dikenalkan makna dan sejarahnya.

"Para santri nanti telah siap menyambut hangat para pebalap. Kami akan jelaskan makna sarung dan apa itu kopiah yang fungsinya berbeda dengan topi. Pasti ini pengalaman baru bagi mereka,” ujar Anas.

Sarung dan Kopiah (songkok) saat ini memang lebih dikenal sebagai identitas pemeluk agama Islam, karena banyak yang mengenakan untuk beribadah.

Akan tetapi, Soekarno pernah mengenakan sarung dan kopiah untuk membakar semangat nasionalisme. Bahwa Indonesia memiliki identitas kebangsaan kopiah, berbeda dengan topi yang dikenalkan Kolonial Belanda.

Dalam budaya Nusantara, sarung dan songkok juga sering dikenakan saat acara pernikahan, acara negara dan khitanan. Atau sekedar digunakan pada aktivitas sehari-hari di lingkungan masyarakat.

"Kami akan tunjukkan pesantren yang menjadi basis pendidikan keislaman di Indonesia tetap menyebarkan nilai-nilai toleransi. Para pendamping pebalap, wajib menjelaskan hal ini, biar dunia internasional tahu bagaimana toleransi ditegakkan di Indonesia," katanya.

Tour de Banyuwangi Ijen tahun ini bakal melintasi empat etape sepanjang 533 kilometer yang diikuti oleh 20 tim dari 29 negara. Ajang ini telah mendapat nilai ekselen dari Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI), yang menjadikan ITdBI sebagai balapan terbaik di Indonesia.

Selain budaya pesantren, para pebalap dan wisatawan juga disuguhi sejumlah destinasi seperti Pantai Watudodol, Bangsring Underwater, Dusun Kakao di Kecamatan Glenmore Banyuwangi, dan tentu saja kaki Gunung Ijen.

(FF/MUA)
  1. Info Banyuwangi
  2. Tour de Banyuwangi Ijen
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA