1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Cara petani kopi Banyuwangi optimalkan nilai ekonomis dari kebun kopi

Paket wisata kebun kopi yang digagas para petani kopi ini, ternyata membuat jaringan pasar secara mandiri.

Taufik menunjukkan kebun kopi. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Kamis, 04 Januari 2018 11:07

Merdeka.com, Banyuwangi - Hamparan kebun kopi memenuhi hampir di setiap pekarangan rumah warga Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Potensi tersebut ternyata menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan untuk mendapatkan pengalaman menjelajahi proses budidaya kebun kopi, panen, pengolahan hingga seduh.

"Wisatawan luar negeri itu sangat suka dengan paket jalan-jalan yang bisa memberikan pengetahuan baru," ujar Hariono Ha'o (40), salah satu petani kopi Lerek, Rabu (3/1).

Sebelumnya, petani kopi di kawasan Gombengsari hanya memanfaatkan nilai ekonomis dari hasil penjualan kopi. Perlahan para petani juga mulai memperbaiki proses panen yang harus petik merah, sortasi hingga proses pengeringan yang benar agar bisa menghasilkan nilai jual lebih mahal karena cita rasa lebih maksimal.

Petani menjemur kopi luwak
© 2018 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab

"Itu baru kami lakukan mulai tahun 2016, sebelumnya kami hanya menjual gelondongan selama puluhan tahun dengan harga murah lewat tengkulak. Sekarang kami coba mandiri," jelas pria yang akrab dipanggil Ha'o ini.

Dia tidak sendirian, untuk mewujudkan paket wisata sekaligus mengenalkan kualitas kopi Gombengsari, dia mengajak petani yang mau berubah, melalui kelompok petani Kopi Lerek Gombengsari (Kopi Lego) dan membuat produk kemasan kopi hasil kebun sendiri.

 

Paket wisata kebun kopi yang digagas para petani kopi ini, ternyata membuat jaringan pasar secara mandiri. Hampir 70 persen, hasil panen kopi laku dibeli jaringan dan wisatawan yang pernah berkunjung.

"Pemasukan pasar terbesar dari wisatawan. Jadi wisata ini yang sedang buming di Banyuwangi ini sebenarnya sebagai sarana promosi," tambahnya.

Dari paket wisata tersebut, keuntungan lain juga didapatkan dari homstay yang dikelola petani. "Di Lingkungan Lerek saja, sekarang sudah ada 13 homstay dengan kamar rata-rata 2-3, memanfaatkan kamar yang kosong dari rumah sendiri," katanya.

Tidak hanya kebun kopi, Ha'o juga membuat ternak kambing etawa yang diperah susunya. Semua pakan ternak kambing etawa diambil dari tanaman rasidi di sekitar pohon kopi yang jadi tumpangsari. Pengalaman memerah susu kambing etawa ini, juga diberikan kepada para wisatawan.

"Satu ekor kambing ini bisa dapat 1 liter susu per harinya, kotorannya bisa jadi pupuk kebun kopi," terangnya.

Hal senada juga disampaikan petani kopi lain, Taufik (40), yang mengoptimalkan kebun kopinya. Dari 3,5 hektare kebun kopi yang mengelilingi pekarangan rumahnya, Taufik juga memelihara puluhan kambing. Ke depan, dia ingin menguatkan gagasan bahwa produk kopi di Gombengsari murni organik.

"Kalau dihitung, kebutuhan pupuk kopi dari ternak ini sudah mencukupi," ujar pria yang juga tergabung dalam kelompok Kopi Lego ini.

Meski sudah bisa memberikan nilai ekonomis lebih tinggi, kata Taufik, masih banyak petani kopi yang belum memanfaatkan potensi tersebut, dan masih menjual melalui tengkulak. Dari 600 KK di Lingkungan Lerek sendiri, hanya 36 KK yang mengikuti konsep mandiri tersebut. Sementara Ha'o, Taufik dan petani kopi lainnya, baru mulai mandiri sejak setahun terakhir.

"Makanya ini kami mengawali. Alhamdulillah, dari 4,2 ton hasil panen kebun saya tahun lalu, semua sudah mandiri saya jual, 70 persen serapan dari lokal," jelasnya.

Produk Kopi Lego
© 2018 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab

Bila dibandingkan nilai jual melalui tengkulak dengan mandiri, kata Taufik, harga terakhir per kilo kopi dihargai Rp 27 ribu. Sementara bila diolah sendiri dan dijual secara mandiri bisa mencapai harga dari 40 ribu hingga ratusan ribu.

"Coba mandiri baru tahun kemarin. Perkilonya, kopi bubuk luwak, bisa sampai Rp 1 juta, excelso Rp 270, lanang Rp 200, robusta koneha Rp 250, robusta togasari Rp 140 ribu," jelasnya.

Tidak hanya di Lingkungan Lerek, di lingkungan lain di Keluruhan Gombengsari juga memiliki kelompok petani sendiri dengan produknya sendiri.

“Di sini sudah ada 4 produk. Ada Seblang, Kahyangan, Kasela dan Kopi Lego. Masing-masing lingkungan sudah mulai ada kelompok mandiri,” katanya.

Tidak hanya Gombengsari, potensi kopi di Banyuwangi tersebar mulai dari Kecamatan Kalipuro, Songgon, hingga Kalibaru.

(FF/MUA)
  1. Kopi Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA