1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Hadrah kolosal warnai festival di Banyuwangi

"Maka tak heran, banyak tradisi di Indonesia yang sangat diwarnai nilai-nilai Islami," kata Anas.

Bupati Abdullah Azwar Anas. ©2018 Merdeka.com Reporter : Endang Saputra | Minggu, 27 Mei 2018 10:44

Merdeka.com, Banyuwangi - Mengawali festival di bulan Ramadan 2018, Banyuwangi menggelar Festival Hadrah Pelajar Nasional. Ratusan pelajar tingkat SMP/MTs dan SMA/sederajat dari berbagai penjuru nusantara unjuk kebolehan. Atraksi seni bernuansa Islami ini pun menjadi sebuah tontonan yang menarik bagi pengunjung.

Festival ini digelar di halaman kantor Pemkab Banyuwangi dan dibuka Bupati Abdullah Azwar Anas, Sabtu (26/5). Ada 131 grup pelajar dari Jawa dan Bali yang meramaikan event ini. Di antaranya, Madrasah Aliyah (MA) Muniroh asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah; SMKN I Cengkareng DKI Jakarta; SMA Excellent Al Yasin, Pasuruan; SMKN I Rembang; dan MA Salafiyah Buleleng, Bali serta ratusan pelajar Banyuwangi.

Festival hadrah ini dibuka dengan permainan hadrah kolosal ratusan pelajar putra yang diiringi shalawat kolosal diselingi tarian khas Kuntulan. Mereka menabuh rebana dengan rancaknya sembari sesekali meliukkan badannya mengikuti komando dari dirijennya.

Bupati Anas pun ikut larut memukul rebana bersama ratusan pelajar. Anas terlihat semangat mengikuti tabuhan rebana para pelajar ini. 'Mantap!' cetus Anas disela-sela menabuh rebananya.

Bupati Anas mengatakan, festival ini digelar untuk mengenal kembali sejarah masuknya Islam di nusantara. Islam dibawa ke mari, kata Anas, salah satunya melalui pendekatan budaya. Lewat budaya itulah, Islam masuk dengan damai.

"Maka tak heran, banyak tradisi di Indonesia yang sangat diwarnai nilai-nilai Islami. Hadrah adalah salah satu seni budaya Islami yang berkembang di negara kita. Semoga event ini bisa merajut silaturahim antar peminat budaya Islami. Dan menjadi tali perajut nilai keislaman nusantara," kata Anas.

Anas juga berharap event ini juga bisa menjadi ajang silahturahmi dan konsolidasi antar pelajar dari berbagai penjuru Indonesia.

"Kami ingin membangun pesan dengan festival hadrah dan sholawat ini agar terbangun sebuah budaya Islam yang santun, toleran, dan inklusif agar negara ini terus damai," kata Anas.

Festival hadrah ini digelar selama dua hari, Sabtu - Minggu (26-27 Mei). Penampilan pertama dibuka oleh grup hadrah dari MTs Sunan Drajat, Banten dan MA Al- Muniro, Blora Jawa Tengah. Kedua grup hadrah bermain cukup apik. Masing-masing grup menampilkan dua buah lagu

Yang menarik, peserta dari luar daerah ini pun menyisipkan sejumlah program pemkab dalam lagu religi yang mereka tampilkan. Seperi Banyuwangi cerdas dan Siswa Asuh Sebaya (SAS), Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah (Garda Ampuh) yang disisipkan dalam lirik lagu yang mereka nyanyikan.

Menurut pengakuan salah vokal grup hadrah MA Al- Muniro, Aidatus Syaadah, cukup menyenangkan menyayikan program Banyuwangi dalam riligi.

"Asyik aja. Programnya cukup menginspirasi kami ingin bantu teman sebaya,” ujarnya.

Festival ini juga menjadi tontonan yang menarik bagi pengunjung. Seperti yang diungkapkan Marie, wisatawan asal Perancis yang mengaku tertarik melihat keunikan seni budaya ini.

"Asyik musik rebana ini. Meski terkesan alat musik sederhana tapi suaranya membahana. Lagu yang disenandungkan penyanyinya juga tidak pernah saya dengan musik semacam ini," ujar Marie dengan penasaran.

Rasa penasaran pun sepertinya memang wajar. Maklum saja, setiap grup diwajibkan membawakan dua lagu. Yakni shalawat dengan iringan musik albanjari (hadrah dan bass) dan lagu bebas yang dikolaborasikan dengan musik non elektrik (perkusi). Seperti, keplak, marawis, calte, dumbuk, jimbe, bas, tamborin dan tamtam.

"Menarik festival ini karena mengangkat seni dan budaya tradisi Islam. Dan ini tidak pernah saya lihat sepanjang saya traveling ke negara yang telah saya kunjungi," katanya.

(ES/ES)
  1. Abdullah Azwar Anas
  2. Festival Banyuwangi 2018
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA