1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Pemkab Banyuwangi bimbing petani Kalibaru kelola benih padi organik

Varietas baru benih padi unggulan M400 kemudian dikembangkan lagi oleh para petani.

Bupati Anas saat berbincang dengan Kepala Dinas Pertanian Arif Setiawan. ©2017 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Senin, 10 April 2017 14:56

Merdeka.com, Banyuwangi - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memberi pendampingan kepada petani untuk mengelola bibit padi organik di lahan pertanian mereka. Pelatihan yang diberikan mulai dari proses tanam hingga panen.

Kelompok Tani Ketangi Santoso, di Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, diberi bimbingan untuk menanam padi organik dengan bibit varietas unggulan baru M400 dari Kementrian Pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arif Setiawan mengatakan, varietas baru benih padi unggulan M400 kemudian dikembangkan lagi oleh para petani dengan nama SaIam Organik Nasional (Salamona). "Salamona itu masih semi organik. Karena ini masih pertama kali nanam. Mereka perlakuannya saja yang organik. Untuk jadi organik murni minimal butuh 4 tahun, dan perlu ada sertifikasi nanti," ujarnya saat mengunjungi panen raya padi organik di Desa Kalibaru Wetan, Senin (10/4).

Melalui benih tersebut, satu batang bisa menghasilkan 300-400 butir padi. Sedangkan padi biasa hanya 150-200 butir per batang. Selain memberi bantuan bibit, juga ada bantuan pupuk sampai mekanisasi pertanian.

Pemkab Banyuwangi pada tahun 2016 telah membantu alat mesin pertanian sebanyak 674 unit kepada petani. Mulai hand tractor, pompa air, sampai corn sheller. Khusus di Kalibaru, tahun 2016 ada 44 unit bantuan. Sedangkan untuk tahun 2017, rencana bantuan alat mesin pertanian yang diberikan sejumlah178 unit.

Arif Setiawan menjelaskan, saat ini sudah ada 7 kecamatan yang sudah dibimbing untuk mengembangkan pertanian organik. Mulai dari kecamatan Singojuruh, Sempu, Rogojampi, Licin, Glenmore, Kalibaru dan Glagah. "Luasan yang sudah sertifikasi organik 44,9 hampir 45 hektare. Yang konversi 110-an hektare (Peralihan dari unorganik ke organik)," jelas Arif.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang datang ke lokasi panen raya mengatakan, pengembangan padi organik dengan mekanisasi alat pertanian membutuhkan pengeluaran biaya lebih murah dan efisien ketika tanah sudah normal.

"Jadi biayanya lebih murah, tapi kenapa masyarakat enggak mau nanam organik? Pertanyaan besarnya. Ini karena kampanye pemilik pupuk urea luar biasa jadi rakyat dibuat tergantung dengan pupuk," jelas Anas.

Sedangkan model bantuan hingga pendampingan pemerintah kepada kelompok petani yang mau mengembangkan padi organik, bisa memantik kolompok petani lain.
"Untuk mengajak kelompok lain. Ini biaya lebih murah, bisa pakai pupuk hayati dan hasilnya lebih mahal 30 persen," ujarnya.

(FF/MUA)
  1. Pertanian
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA