1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Stabilkan Harga, Petani Buah Naga Banyuwangi Dapat Kontrak Pembelian 150 Ton

"Begitu kontrak ditandatangani, pengiriman bertahap langsung dilakukan. Terima kasih kepada Kementerian Pertanian".

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan. ©2019 Merdeka.com Reporter : Endang Saputra | Selasa, 22 Januari 2019 17:45

Merdeka.com, Banyuwangi - Dikenal sebagai penghasil buah naga di Indonesia, petani Banyuwangi mendapatkan kontrak pembelian dari tiga perusahaan asal Jakarta. Kontrak ini menjadi kepastian pasar dan harga bagi para petani di tengah melimpahnya produksi saat ini.

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan mengatakan, kontrak pembelian tersebut berjumlah 150 ton buah naga. Kontrak ditandatangani petani dan pembelinya di Kantor Dinas Pertanian Banyuwangi, Senin (21/1).

"Begitu kontrak ditandatangani, pengiriman bertahap langsung dilakukan. Terima kasih kepada Kementerian Pertanian yang ikut memfasilitasi kerja sama ini. Semoga ini membantu menstabilkan harga yang kini menurun," ujar Arief.

Dari kontrak tersebut, pedagang membeli dengan harga Rp 5.000-6.000 per kg, di atas harga pasar yang sekitar Rp 2.000.

"Buah yang diambil adalah grade A dan B menyesuaikan kondisi. Kita dorong kontrak ini terus diperluas, karena bisa menjadi instrumen pengendalian harga ketika panen raya," terang Arief.

Saat ini, produksi buah naga memang terus meningkat. Ada lima kecamatan di Banyuwangi yang sedang panen raya secara bersamaan. Produksi buah naga di Banyuwangi terus meningkat tiap tahun. Pada 2012, produksinya masih sebesar 12.936 ton (2012), lalu meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 42.349 ton pada 2017.

Penambahan produksi itu seiring penambahan lahan kebun buah naga. Pada 2012 baru seluas 539 hektar, pada 2017 sudah mencapai 1290 hektar.

"Banyak petani yang mengalihkan lahannya dari sawah padi menjadi buah naga karena tergiur keuntungannya. Namun, ketika panen bersamaan memang harganya berpotensi turun," ujar Arief.

Sementara itu, salah seorang petani, Agus Widyaputra, mengaku sangat terbantu dengan adanya kontrak pembelian tersebut. Karena di saat panen raya seperti ini dia dan petani di wilayahnya kesulitan untuk memasarkan hasil panen.

"Melimpahnya panen, buah naga dari lahan kami banyak yang tidak terbeli karena pasar sudah banjir buah naga. Dengan difasilitasi pemasaran ini, kami sangat lega," kata petani asal Kecamatan Tegaldlimo tersebut.

Agus pun langsung mengirim lima ton ke Jakarta. "Rabu besok kami kirim lagi 10 ton," ujarnya.

Arief menambahkan, untuk harga buah naga organik saat ini masih stabil di kisaran Rp 15.000 per kilogram.

"Karena itu, kami mendorong dan memfasilitasi petani menggarap buah naga organik yang harganya lebih stabil," ujar Arief.

Arief juga terus mendorong hilirisasi buah naga yang sekarang sudah dilakukan sejumlah pelaku usaha dengan mengolah buah naga menjadi beragam jenis makanan, minuman, hingga komestik.

"Hilirisasi penting untuk memberi nilai tambah agar petani tetap menikmati keuntungan yang memadai," katanya.

(ES/ES)
  1. Pertanian
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA