1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Permintaan susu kambing meningkat, peternak kambing etawa ingin lebih kompak

"Saya per bulan permintaan susu sampai 750 liter per minggu. Sementra produksi 350 liter".

peternak kambing etawa. ©2018 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Kamis, 23 Agustus 2018 16:50

Merdeka.com, Banyuwangi - Susu kambing sudah mulai menjadi kebutuhan untuk mencukupi nutrisi dalam tubuh, tidak hanya menjadi pelengkap untuk dinikmati. Hal ini dirasakan para peternak susu perah kambing etawa di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.

Hariyono Ha'o (40) peternak susu perah kambing mengatakan, dalam setahun terakhir permintaan susu kambing di kelompoknya meningkat drastis hingga 750 liter per minggunya. Sementara kelompok ternaknya masih bisa memenuhi permintaan sebanyak 350 liter per tiap pekan.

"Susu kambing sudah jadi kebutuhan. Tidak hanya dinikmati. Permintaan susu kambing sekarang tinggi. Saya per bulan, permintaan sampai 750 liter per minggu. Sementra produksi 350 liter. Dapat 400 liter mentok. Itu masih dari kelompok, dari 7 peternak," kata Hariono di Lingkungan Lerek, Kelurahan Gombengsari, Rabu (23/8).

Pria yang juga menjadi Litbang Asosiasi Peternak Kambing Perah Indonesia (Aspekpin) Jawa Timur ini mengatakan, Kecamatan Kalipuro menjadi sentra peternak kambing etawa dengan populasi tertinggi di Banyuwangi, namun baru 5 persen di yang mau memanfaatkan kambingnya untuk diperah.

"Yang fokus dijual untuk pedaging ada 20 persen, 75 persen budidaya dan 5 persen susu perah. Kalau seluruh Kalipuro produktivitas susu kambing akan menghasilkan susu sekitar 2.000-3.000 liter per bulannya," kata Hariyono.

Sementara dari 3.400 KK lebih warga Gombengsari, Kalipuro, 75 persennya merupakan peternak kambing Etawa.
Dari 75 persen mayoritas masyarakat Gombengsari yang menjadi peternak kambing, rata-rata tiap kepala keluarga memiliki 8 hingga 10 ekor kambing.

"Dan di Gombengsari baru ada 7 peternak yang memanfaatkan kambingnya untuk diperah, termasuk milik saya," jelasnya.

Dari permintaan susu yang belum terpenuhi, Ha'o berharap para peternak mau belajar bersama untuk memerah kambingnya sebagai nilai tambah ekonomi.

"Permintaan yang besar dari Bali, Situbondo, Surabaya masih belum memenuhi. Itu belum sampai ke industri besar. Dari total di Gombengsari hanya 7 peternak, untuk mendorong petani untuk merah susu itu nggak mudah," katanya.

Hariyono sendiri mengaku menjadi yang pertama mencoba memerah susu kambingnya, sejak tiga tahun terakhir. Dia belajar secara otodidak cara memerah sapi yang bersih agar menghasilkan susu yang enak dikonsumsi. Mulai dari rutin membersihkan kandang, kambing, hinga menjaga kesehatan pakannya.

"Peternak rata-rata masih menganggap ribet, dan masih enggan melakukan aktivitas baru. Tapi setiap saat saya selalu siap mendapingi kalau ada yang ingin belajar. Saya rela itu gratis," kata dia.

Hariyono sendiri melakukan cara memerah dengan hati-hati. Mulanya bagian puting kambing dilap dengan kain yang dibasahi dengan pembersih bakteri. Kemudian memerah menggunakan penampungan dari bekas botol air mineral untuk meminimalisir potensi kotoran masuk.

"Awal dinilai bau amis, padahal kalau jaga kebersihan kandang, cara merah sampai pengemasan benar tidak bau. Bahkan baru diperah langsung diminum tidak bau, enak," jelasnya.

Hariyono sendiri rata-rata memiliki 10 ekor kambing yang siap diperah dengan produktivitas 7 liter per harinya. Satu liter susu segar kambing dijual dengan harga Rp 12-15 ribu.

Selain Banyuwangi, daerah yang juga memiliki produksi susu kambing ada di Lumajang, Jember, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Malang, Blitar, Tulungagung dan Paiton.

"Lumajang cukup besar. Dan diluar Jawa Timur, di Jogjakarta produksinya sangat besar," ujarnya.

Selain menjadi sentra kambing, Gombengsari juga memiliki potensi perkebunan kopi rakyat. Di sekitar kebun kopi yang mengelilingi rumah penduduk dipenuhi dengan tanaman rasidi yang bagus untuk makanan ternak kambing.

Hariyono sendiri memanfaatkan potensi tersebut menjadi paket wisata mulai dari pengalaman memerah susu kambing hingga jalan-jalan menyusuri kebun kopi, memanen dan menyangrai.

"Sekarang sudah ada 17 homstay di Gombengsari. Hampir tiap hari ada wisatawan yang berkunjung," katanya.

(ES/MUA)
  1. Pertanian
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA