1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Anas bertemu komunitas kreatif Bandung bahas potensi Banyuwangi

salah satunya adalah mendorong kreativitas masyarakat dengan proteksi regulasi dari pemerintah.

Anas saat menjadi pembicara dalam event #DESIGNACTIONBDG2016 Sensori (C)ity. ©2016 Merdeka.com Editor : Farah Fuadona | Kamis, 10 November 2016 16:34

Merdeka.com, Banyuwangi - Pembangunan yang dilakukan oleh Banyuwangi selama ini ternyata memiliki nilai kreativitas yang menarik dan genuine. Pengakuan ini, datang dariĀ  Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan menghadirkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sebagai pembicara tunggal dalam event #DESIGNACTIONBDG2016 Sensori (C)ity.

Dalam forum yang menghadirkan para komunitas, penggiat kreatif dan juga SKPD Pemkot Bandung, Bupati Anas memaparkan tentang "kreativitas" ala Banyuwangi. "Konsep yang kami usung dalam membangun Banyuwangi adalah humanopolitan yang memadukan antara sisi kemanusiaan, budaya dan potensi alam yang ada. Dari konsep inilah kreativitas Banyuwangi dibangun," ujarAnas di Pendopo Wali Kota Bandung, Kamis (10/11).

Yang pertama kali dilakukan Banyuwangi untuk membangun kreativitas tersebut dengan konsolidasi budaya. Konsolidasi tersebut melalui even Banyuwangi Festival (B-Fest). "B-Fest dilakukan langsung Pemerintah untuk mendorong kebanggaan pada budaya lokal dan potensi alam sendiri. Sehingga muncul optimisme masyarakat yang mendorong kreativitas," kata dia.

Dengan konsolidasi budaya tersebut, muncul kreativitas yang genuine dari masyarakat Banyuwangi. Seperti halnya pelaksanaan festival di tingkat desa sesuai dengan kultur dan potensi lokal masing-masing. "Seperti Kampong Wisata Temenggungan yang mengusung konsep wisata berdasar budaya daerah tersebut. Hal ini murni diinisiasi desa tanpa bantuan oleh pemerintah," ujarnya.

Selain konsolidasi budaya, menumbuhkan kreativitas di Banyuwangi dilakukan dengan mengajak partisipasi publik. Untuk bisa mendorong partisipasi publik, Pemda Banyuwangi harus mampu menumbuhkan adrenalin masyarakat agar tertantang dalam berbagai pembangunan Banyuwangi. "Meningkatnya kunjungan wisata ke Banyuwangi, mendorong adrenalin masyarakat untuk bisa menyiapkan diri menjadi tuan rumah pariwisata," kata Anas.

Menumbuhkan adrenalin itu sendiri juga harus bisa menumbuhkan pendapatan dari masyarakat. "Jika tidak berkorelasi dengan financial income (pendapatan) maka kreativitas yang muncul hanyalah teori," kata dia.

Menyiapkan infrastruktur juga menjadi kiat penting dalam menumbuhkan kreativitas. Banyuwangi yang berada di ring tiga pembangunan provinsi dan jarak tempuh yang luas membutuhkan infrastruktur yang memadai untuk menunjang mobilitas dan konektivitas. Untuk itu Banyuwangi mengembangkan transportasi udara dan juga jaringan internet. "Saat ini penerbangan ke Banyuwangi sehari ada empat kali flight (penerbangan). Sedangkan untuk jaringan internet, kami telah membangun jaringan fiber optic ke desa-desa," ujar Anas.

Kiat terakhir adalah mendorong kreativitas masyarakat dengan proteksi regulasi dari pemerintah. "Jika kreativitas yang tumbuh di tengah masyarakat tidak diproteksi oleh pemerintah maka akan tergerus dengan arus modal yang berasal dari pihak luar," katanya.

Untuk proteksi tersebut, ada beberapa regulasi yang dikeluarkan oleh Pemkab Banyuwangi. "Kami melarang hotel dibangun didekat tempat wisata. Yang kami dorong adalah tumbuhnya home stay yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Di sini ada pembangunan, kreativitas dan juga pendapatan bagi masyarakat," ujar dia.

Kreativitas yang diusung oleh Banyuwangi tentu berbeda dengan Kota Bandung sendiri yang pada tahun 2015 kemarin, mendeklarasikan diri sebagai "creative city" dan menargetkan menjadi kota desain dunia versi UNESCO (United Nation Education, Scientifik and Culture Organization). Akan tetapi perlu adanya singkronisasi satu sama lain. "Perpaduan ini akan semakin meningkatkan pembangunan di masing-masing daerah," kata Anas.





(FF)
  1. Info Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA