1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

‚ÄéKetua MA kagum dengan perkembangan Banyuwangi saat ini

Dulu saat belum berkembang seperti ini, ia pernah hanya mampir kencing saat lewat di Banyuwangi.

Ketua MA saat melihat Bandara Blimbingsari. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Selasa, 25 Juli 2017 15:04

Merdeka.com, Banyuwangi - Ketua Mahkamah Agung RI Muhammad Hatta Ali mengaku sudah bertahun-tahun mengikuti perkembangan Kabupaten Banyuwangi. Dia ingin melihat langsung berbagai inovasi dan capaian yang sudah diraih Banyuwangi.

Hal ini disampaikan Hatta usai memberikan sertifikat akreditasi penjamin mutu kepada pengadilan negeri dan tinggi se-Indonesia di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin (24/7).

Sebelumnya pada tahun 2005, Hatta pernah mampir di Banyuwangi untuk perjalanannya menyeberang ke Pulau Bali. "Pernah lewat, hanya lewat mampir kencing di toilet. Sekarang baru penasaran sempat keliling kota tadi, indah ternyata," ujar Hatta.

Saat pertama mendarat di Bandara Blimbingsari, Hatta terkesan dengan arsitekturnya. Menurutnya sebagian besar bandara di Indonesia masih mengandalkan pendingin AC, lampu penerang dan dibangun penuh dengan kaca. Saat ke Banyuwangi dia menemukan hal yang berbeda.

"Ke Bandara Blimbingsari ternyata aksiteturnya sangat ramah lingkungan. Angin kencang sehingga tidak perlu AC, matahari sangat cerah tidak perlu ada lampu menyala," katanya.

Tidak hanya ramah lingkungan, dia menilai Bandara Blimbingsari juga ramah manusiawi. "Bagi yang mengantar keluarga berangkat, tidak perlu duduk di bawah. Tapi disiapkan di lantai dua yang manusiawi untuk menunggu keluarga," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga menyampaikan, Banyuwangi mulanya memang hanya jadi tempat mampir orang untuk kencing sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali.

Di sisi lain, Anas juga mengucapkan terima kasih karena telah memilih Banyuwangi sebagai tuan rumah untuk penyerahan akreditasi pengadilan se-Indonesia. "Terima kasih telah memilih Banyuwangi sebagai tempat. Saya juga mohon maaf karena banyak yang belum dapat kamar hotel," ujarnya.

Anas mengatakan Banyuwangi lebih mengutamakan pembangunan hotel berbintang dan homstay. Kemudian melarang pembangunan hotel kelas melati. "Karena konsep kami, eko-tourism. Di sekitar bandara juga tidak kami izinkan mendirikan bangunan, kami biarkan tetap persawahan. Dulu kunjungan Wisman hanya 500 ribu, sekarang sudah 4,3 juta," kata dia.

(FF/MUA)
  1. Info Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA