1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Kisah seniman pemain kendang asal Banyuwangi keliling luar negeri

"Edi yang berbadan besar ini adalah tukang kendang asal Desa Kemiren, Banyuwangi yang pernah main di Frankfurt, Jerman".

Penampilan seniman Banyuwangi di Frankfurt Book Fair 2015. ©2018 Merdeka.com Editor : Endang Saputra | Senin, 02 April 2018 11:10

Merdeka.com, Banyuwangi - Duduk di belakang dua kendang dengan badannya yang besar, Haidi Bing Slamet (38), bersama grup musik tradisional Banyuwangi 'Uni Using' asik membawakan lagu Impen-impenan. Mengenakan seragam orange, kelompok musik ini juga dilengkapi penyanyi, pemain biola, gong, kluncing, gamelan hingga rebana.

Maestro Tari Gandrung Temuk Misti (64) duduk di bangku kecil di samping pemukul gong, menyanyikan lagu-lagu lama berbahasa Osing Banyuwangi. Bedak tebal dan warna-warna make up yang mencolok di wajah Gandrung Temuk membuat spirit grup musik tradisional ini semakin terlihat hidup.

Bukan panggung, mereka tampil di atas lantai kayu halaman belakang Pendopo Sabha Swagata Blambangan yang biasa menjadi tempat Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjamu par tamu-tamu. Berbekal jamuan makan dan musik berkualitas itu, Bupati Anas kerap mengajak tamunya, dari kalangan pejabat pemerintah pusat, anggota dewan, pengusaha, perbankan, pelaku wisata, hingga bawahannya sendiri, untuk mendukung pembangunan Banyuwangi.

Dalam kesempatan tertentu, Bupati Anas juga mengenalkan Edi, sapaan Haidi Bing Slamet, sebagai tukang kendang Banyuwangi yang pernah tampil di Jerman. Lalu Bupati Anas memintanya memperdengarkan sedikit permainan kendang dengan pukulan-pukulan cepat.

"Edi yang berbadan besar ini adalah tukang kendang asal Desa Kemiren, Banyuwangi yang pernah main di Frankfurt, Jerman. Setelah ke luar negeri sekarang kelihatan beda mukulnya," kata Bupati Anas dalam sebuah jamuan.

Bakat dan jaminan kualitas

Di teras rumahnya, Edi memasang sebuah papan kayu tebal tegak dengan tulisan besar 'Uni Using'. Di bawahnya juga ada tulisan berbahasa Osing yang berarti, kerja jelek-jelekan semua orang bisa, tetapi kerja bagus-bagusan tidak semua orang bisa.

"Tandang elek-elekan kabeh wong biso. Tandang apik-apikan sing kabeh wong biso" bunyi tulisan itu, tertanda Buhari 1947-2002.

Itulah ajaran Buhari, sang ayah, kepada Edi yang dia pegang betul dalam menjalani kehidupannya sebagai seniman. Edi mengatakan warga Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, tempatnya tinggal, memang termasuk masyarakat yang perfeksionis.

Mulai dari pembuatan peralatan sehari-hari seperti gagang golok dan cingkek atau alat pikul, hingga pagelaran hajatan selalu dibuat sebaik mungkin secara mandiri atau gotong royong. Meski hajatan kelas desa, untuk biaya belanja daging sapi saja bisa menghabiskan uang Rp 15 juta. Total biaya hajatan pernikahan orang Desa Kemiren berkisar Rp 60 juta hingga Rp 70 juta.

"Juga dalam berkesenian. Membawakan musik tradisional, entah itu rebana, angklung atau gamelan, seniman Kemiren tidak mau asal-asalan," kata Edi kepada Merdeka Banyuwangi, Minggu (1/3).

Bakat seni nampaknya didapatnya dari sang ayah dan lingkungan Kemiren, yang bahkan membawa musik ke sawah. Almarhum Buhari merupakan seniman musik yang juga sahabat dari budayawan Banyuwangi Hasnan Singodimayan.

Edi menceritakan ayahnya pernah menjadi tempat belajar seorang dosen Sastra Indonesia di Leiden University Belanda bernama Prof Dr Bernard Arp, selama beberapa tahun mulai tahun 1996.

Sedangkan petani Kemiren sering bermain musik di sela-sela kegiatan mereka di sawah seharian. Alat musik pukul bernama Kentulitan mereka buat sendiri dari batang bambu, sebagian bermain angklung paglak di gubuk tinggi sambil mengawasi burung yang mengganggu sawah.

"Saya ini bibitnya seniman, alamnya juga alam seniman," kata Edi.

Namun dengan begitu sang ayah tidak banyak melatih Edi, melainkan hanya memberikan beberapa keterangan pakem pemukulan kendang pengiring tari Gandrung. Selebihnya Edi berlatih sendiri, memperhatikan ayahnya ketika manggung, dan mempraktikkannya sepulang sekolah.

Hingga tahun 1993 ketika duduk di kelas 6 SD, Edi mendapatkan kesempatan pertama manggung mengiringi pertunjukan Gandrung Terop. Gandrung Terop merupakan pagelaran seni Tari Gandrung semalam suntuk sebagaimana Tari Tayub di Jawa Tengah.

Mendapatkan tugas sebagai pemukul gong, dari hajatan di Dusun Jambean, Desa Glagah, Kecamatan Glagah itu, Edi mendapatkan upah pertama sebagai seniman musik sebesar Rp 20 ribu.

Selanjutnya Edi terus berkembang ke berbagai jenis kesenian Banyuwangi, rebbana Kuntulan, Campur Sari, Janger dan Gandrung.

Perancis, Jerman, Malaysia

Kesempatan manggung di luar negeri juga datang, pertama Perancis, tahun 2010, atas kerjasama Pemkab Banyuwangi bersama Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) di Perancis. Sebanyak 9 seniman Banyuwangi kala itu tinggal seminggu di Negeri Menara Eiffel dan tampil 4 kali di beberapa kota seperti Paris, Lyon, Marcy, dan di satu sekolah musik di kota pelabuhan Le Havre. Salah satu yang ditampilkan, tari Jaran Goyang.

Selanjutnya, Edi dan seniman Banyuwangi lain tampil di Frankfurt Book Fair 2015, di Jerman, dimana Indonesia menjadi tamu kehormatan. Gandrung dan Barong Osing Banyuwangi menjadi salah satu wakil kesenian tradisional Indonesia yang ditampilkan.

Edi, Gandrung Temuk, Gandrung Mia, Rayes (pemain kluncing), Budi Santoso (pemain sharon), Alex, Ali Kentus, Buang, Roki dan Rian berangkat membawa perlengkapan masing-masing. Kepala Bidang Adat dan Tradisi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Aekanu Hariyono, turut tampil dalam tarian Barong Osing sebagai Pitik-pitikan.

Kepada Merdeka Banyuwangi, Aekanu mengatakan penampilan di Frankfurt merupakan salah satu momen pengenalan kebudayaan Banyuwangi. Tarian yang ditampilkan Gandrung, Jaranan Buto, Barong Ider, bahkan Temuk dan Mia mengajak pengunjung Frankfurt Book Fair menari Gandrung bersama. Sesi penari mengajak penonton menari bersama, dengan mengalungkan sampur atau selendang tari, disebut Paju Gandrung.

"Karena kami bawa tradisi luar biasa apresiasi orang. Kebanyakan yang saya tanya, menganggap yang modern itu biasa, sedangkan yang tradisional ini unik," kata Aekanu.

Di depan ratusan pengunjung di atas panggung sepanjang 12 meter di tepi Sungai Mein, identitas budaya Banyuwangi menjadi pusat perhatian.

Tahun 2017 Edi dan kelompok seniman Banyuwangi manggung di luar negeri. Kali ini di Kuala Lumpur, Malaysia dalam acara peluncuran kartu anjungan tunai mandiri (ATM) sebuah bank milik negara Indonesia untuk pekerja migran asal Indonesia di sana.

Kendang bagi Edi

Kendang dalam permainan musik tradisional adalah pemimpin harmoni. Selain menyimpan kenangan akan ayah yang dibanggakannya, Edi bermain kendang karena dia mampu.

"Kendang itu alat musik pertama yang saya pelajari. Kendang itu leader, kalau mobil itu sopirnya," kata Edi.

Tidak semua seniman bisa memainkan kendang, pemain dituntut hafal gending atau lagu, kepadatan tempo, kemampuan pemukulan, kecepatan, dan harus bisa dinamis. Edi menilai permainan kendang Jawa, Bali, dan dangdut lebih halus dan lebih mudah dibandingkan permainan kendang Banyuwangi.

Selain itu permainan kendang di Banyuwangi hanya menggunakan 2 kendang dengan variasi bunyi yang tetap dituntut kaya. Bahkan di sekitar tahun 1980 pemain kendang Banyuwangi hanya mengandalkan sebuah kendang untuk hasilkan berbagai bunyi.

"Tempat lain masing-masing kendang punya suara, jadi ada yang sampai tukang kendang menangani 6 kendang sekaligus," kata pengendang yang kini turut dalam proyek pembuatan album Banyuwangi Etno Musik atas kerjasama dengan Klinik Amour 2 Genteng, ini.

Dengan kelompok musik Uni Using yang didirikannya, Edi mendapatkan 10 hingga belasan job per bulan sebagai seniman.

Meskipun disukai, dulu musik dianggap bukan kemampuan yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah sehingga tidak banyak yang serius mendalaminya. Namun kini banyak pelajar SMP dan SMA di Banyuwangi yang terampil memainkan berbagai peralatan musik tradisional.

Aksi mereka bisa dilihat di berbagai pagelaran festival yang memperlihatkan kemampuan bermusik dan menari pelajar Banyuwangi. Menunjukkan banyaknya bakat-bakat seni muda yang berkembang di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

"Kalau sekarang banyak yang bagus. Anak-anak SMP dari Banyuwangi selatan, utara, banyak yang pintar," katanya.

 

(ES) Laporan: Ahmad Suudi
  1. Pariwisata
  2. Abdullah Azwar Anas
  3. Seniman
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA