1. BANYUWANGI
  2. PARIWISATA

Banyuwangi gelar ngopi Sepuluh Ewu Sabtu 5 November

Festival ngopi ini akan dikemas dengan cantik. Digelar malam hari, pelataran rumah warga akan ruang tamu dadakan.

©2016 Merdeka.com Reporter : Muhammad Hasits | Rabu, 02 November 2016 14:18

Merdeka.com, Banyuwangi - Mengangkat pamor kopinya, Banyuwangi menggelar Festival Ngopi Sepuluh Ewu, pada Sabtu 5 November 2016. Dalam festival itu, sepuluh ribu cangkir lebih akan disuguhkan kepada pengunjung di Desa Adat Kemiren, Banyuwangi.

‘Sak Corot Dadi Saduluran.’ Itu merupakan istilah yang biasa dipakai warga using Desa Kemiren atas tradisi ngopi bareng mereka, artinya Sekali Seduh Kita Bersaudara. Istilah inilah yang coba akan diangkat dalam festival.

Ribuan kopi akan dihidangkan setiap rumah di sepanjang jalan utama Desa Kemiren, yang panjangnya mencapai 1,5 kilometer. Kopi dan jajanan khas Kemiren akan disajikan di pelataran rumah bagi siapapun tamu yang hadir. Wangi kopi pun akan menguap malam itu dari sepuluh ribu cangkir yang terhidang. Membuat hangat suasana desa yang terletak di kaki Gunung Ijen.   

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda mengatakan ide festival ini terinspirasi dari kebiasaan minum kopi warga Kemiren, yakni tradisi ngopi bareng.

"Istilah Sak Corot Dadi Saduluran ini yang jadi inspirasi kami menggelar Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang telah kita gelar rutin sejak empat tahun lalu. Minum kopi bersama ini menjadi sarana mempererat jalinan silaturahmi antar masyarakat Using yang sudah terkenal keramahan dan keluwesannya," kata Bramuda.

Bramuda menambahkan, festival ini menjadi bagian promosi dan memperkenalkan kopi khas Banyuwangi, sekaligus untuk mengenalkan tradisi minum kopi Banyuwangi.

"Di Banyuwangi ada beberapa wilayah yang sangat menonjol dalam produksi kopi, yakni Kalipuro, Kalibaru, termasuk di kawasan barat Banyuwangi yang di kaki Gunung Ijen. Bahkan, di Desa gombengsari Kalipuro, dua bulan lalu telah digelar Festival Petik Kopi," ujar Bramuda.

Kopi telah menjadi salah satu produk perkebunan yang menjadi andalan Banyuwangi. Data mencatat produksi kopi di Banyuwangi mencapai  8.047 ton pada 2015, meningkat dari tahun 2014 yang 7.992 ton. Angka produktivitasnya mencapai 19,49 kwintal per hektare.

Festival ngopi ini akan dikemas dengan cantik. Digelar malam hari, pelataran rumah warga akan ruang tamu dadakan. Meja kursi tamu yang diusung keluar akan tersaji bubuk kopi dan jajanan khas Banyuwangi, seperti klemben (bolu khas Banyuwangi), pisang rebus, serabi, lanun, lopis, rengginang, aneka kripik hingga ketan.

Kopi yang akan ditampilkan dalam festival ini adalah kopi produksi Banyuwangi. Uniknya, cangkir penghidang yang dipakai memiliki bentuk dan motif yang seragam.

Di festival ini, setiap orang bisa duduk di halaman rumah siapa saja. Sang empunya rumah akan menyambut dan mengajak tamu yang hadir untuk mencicipi kopinya.

Di Festival Ngopi Sepuluh Ewu ini, para pengunjung bisa melihat pameran berbagai produk kopi dari Banyuwangi, di antaranya kopi dari Lerek Gombengsari, kopi jaran goyang, kopi Uthek Desa Banjar.

Selain itu, di festival ini juga akan digelar berbagai aktivitas dalam bentuk pameran, mulai sesi cupping atau seni menghirup aroma, menyeruput, dan meneguk kopi.

"Selain bisa menikmati kopi yang terhidang di halaman rumah-rumah warga, para wisatawan juga bisa mengikuti pameran kopi lewat booth (tenda) yang disediakan panitia. Pameran kopi tersebut sudah dilangsungkan  2 hari sebelum pelaksanaan Festival Ngopi Sepuluh Ewu," pungkas Bramuda.

(MH/MH)
  1. Festival Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA