1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Cerita lakon ritual kebo-keboan di Desa Alas Malang Banyuwangi

Secara partisipatif, warga ikut menjalankan ritual kebo-keboan sebagai sebuah bentuk pelestarian budaya dari tahun ke tahun.

Ritual kebo-keboan Desa Alas Malang. ©2016 Merdeka.com Reporter : Suci Rachmaningtyas | Senin, 03 Oktober 2016 10:38

Merdeka.com, Banyuwangi - Slamet 'Bodong' (39) atau lebih dikenal sebagai Mamet, merupakan salah seorang kebo (kerbau) di ritual Kebo-keboan di Desa Alas Malang, Kecamatan Singonjuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Selama enam tahun berturut-turut, Mamet berlakon menjadi kebo-keboan di desa kelahirannya tersebut. Ia bersama puluhan lakon lain didandani mirip kerbau, berbadan hitam legam dan bertanduk. Mereka diarak keliling desa sesuai arah empat penjuru mata angin. Yakni Watu Loso, Watu Bacah, Watu Karangan dan Watu Tumeng.

"Masyarakat Alas Malang kebanyakan hidup sebagai petani. Kebo-keboan menjadi bentuk rasa syukur kami. Selain tolak bala, harapannya agar tahun ke depan hasil pertanian kami jauh lebih bagus," ujar Mamet kepada Merdeka Banyuwangi.

Menurut Mamet, dalam festival tahun ini jumlah kebo-keboan mencapai lebih dari 40 orang pemuda asal desa Alas Malang. Secara partisipatif, mereka ikut menjalankan ritual kebo-keboan sebagai sebuah bentuk pelestarian budaya dari tahun ke tahun.

Lakon ritual kebo-keboan Desa Alas Malang
© 2016 merdeka.com/Suci Rachmaningtyas

"Kalau persiapannya nggak lama. Tapi suka dukanya itu kalau udah mandi harus berjam-jam untuk menghilangkan legamnya ini kan dari gerusan arang yang dicampur minyak goreng," kata Mamet sambil tertawa.

Mamet dan puluhan lakon Kebo-keboan lain merupakan simbolisasi dari sistem bajak sawah zaman dahulu yang menggunakan kerbau sebelum masa tanam tiba. Dalam ritual ider bumi berkeliling desa, kebo-keboan akan melakukan ritual seperti kerbau yang tengah membajak sawah. Mereka juga berkubang, bergumul di lumpur dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang mereka lewati.

Ritual Kebo-keboan Alas Malang diakhiri dengan proses membajak sawah dan menabur benih padi. Dalam proses tabur benih tersebut, warga desa saling berebut benih. Bibit-bibit padi tersebut diyakini bisa mendatangkan hasil panen yang melimpah-ruah sebab telah diberkahi oleh Dewi Sri sebagai dewi kesuburan.

(FF/SR)
  1. Info Banyuwangi
  2. Festival Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA