1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Ribuan Telur Diarak pada Festival Endhog-Endhogan

"Tradisi endhog-endhogan ini, merupakan tradisi yang khas Banyuwangi. Tak ada di tempat lain".

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko. ©2018 Merdeka.com Editor : Endang Saputra | Rabu, 21 November 2018 10:36

Merdeka.com, Banyuwangi - Festival Endhog-Endhogan yang digelar dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad pada Selasa sore (20/11) berlangsung meriah. Ribuan kembang endhog diarak dari empat penjuru menuju ke titik kumpul di depan Kantor Pemda Banyuwangi.

Ribuan endhog (bahasa Using: Telur) itu, ditaruh ditangkai bambu yang dihias bunga kertas. Hal ini dikenal luas dengan sebutan kembang endhog. Kembang endhog tersebut lantas dirangkai di judang. Yaitu, sebuah tempat berhias yang menjadi papan kembang endhog. Ada yang terbuat dari pelepah pisang, gabus dan lain sebagainya.

Yang membuat tambah meriah, ribuan kembang endhog yang tersaji di ratusan judang tersebut di arak keliling. Ada yang dari timur, barat, utara, dan selatan. Masing-masing penjuru dilengkapi dengan tabuhan rebana dan tarian kuntulan. Masing-masing peserta juga membawa ancak yang berupa makanan siap saji.

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko yang mengatakan, bahwa maksud Festival Endhog-Endhogan tersebut. Endhog-Endhogan merupakan bagian dari ekspresi khas kecintaan masyarakat Banyuwangi kepada Nabi Muhammad SAW.

"Tradisi endhog-endhogan ini, merupakan tradisi yang khas Banyuwangi. Tak ada di tempat lain. Ini adalah bentuk ekspresi kecintaan warga Banyuwangi kepada Nabi Muhammad," ungkap Yusuf.

Kembang endhog sendiri bukan semata hiasan ataupun hiburan. Namun, sarat dengan nilai-nilai filosofis. Hiasan bunga pada bambu hingga buah berbentuk telur memiliki makna tersendiri.

"Ini adalah visualisasi dari kelahiran dari Nabi Muhammad yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Bambu yang tak berbunga dan berbuah, bisa berbunga dan berbuah berkat rahmat Allah yang diberikan atas kelahiran Nabi Muhammad," cetusnya.

Lebih dari itu, lanjut Yusuf, yang terpenting dari peringatan Maulid Nabi tersebut adalah semangat untuk meneladaninya.

"Jangan sampai kita semangat saat pawai, tapi lupa untuk meneladani apa yang telah Nabi Muhammad ajarkan," kata dia.

Rangkaian Festival Endhog-Endhogan ditutup dengan tausiyah maulid yang disampaikan oleh Ustad Andi Nur Hidayat sekaligus doa. Kemudian, ancak yang diarak dimakan bersama. Sedangkan kembang endhognya dibagikan ke segenap pengunjung.

(ES) Laporan: Ahmad Suudi
  1. Festival Banyuwangi 2018
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA