1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Cerita penambang belerang sukses bikin homestay di Banyuwangi

Setelah buat homestay, ekonomi keluarga semakin meningkat.

©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Jum'at, 19 Mei 2017 15:10

Merdeka.com, Banyuwangi - Keluarga Ahmad Effendi (35) sudah puluhan tahun menjadi penambang belerang di Kawah Ijen. Sadar dengan potensi ekowisata, Effendi bersama keluarga besarnya mencoba gotong royong membuat homestay di belakang rumahnya.

Rumah Effendi di Dusun Kebundadap, Desa Taman Sari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi memang dikenal sebagai kampung para penambang. Lokasi desanya berada di kaki Gunung Ijen, dengan kondisi jalan naik turun dan cuaca dingin.

Effendi sudah menambang belerang sejak tahun 2003, sementara ayahnya, Saryono, (57) sudah menambang sejak tahun 1972. Saat ini, hasil menambang belerang dihargai Rp 1000 per kilogram. Sementara dalam sehari, para penambang rata-rata bisa membawa 1-2 kwintal per hari.

Effendi harus naik ke Ijen mulai dini hari dan baru turun mengangkut belerang menggunakan troly pada pagi sampai siang hari. Rata-rata pendapatannya kisaran Rp 100-150 ribu per hari.

"Tapi ya tidak setiap hari menambang. Sekarang enak pakai troly bisa langsung diangkut turun semua, kalau tahun lalu bawanya masih dipikul. Sekali pikul rata-rata beratnya 70 Kg. Jadi harus naik turun Gunung Ijen dua kali," ujarnya kepada Merdeka Banyuwangi saat ditemui di rumahnya pekan lalu.

Baru pada tahun 2014, keluarga Effendi coba berinisiatif untuk membuat homestay di rumahnya. Mulai dari memanfaatkan kamar di rumah, hingga membangun homestay panggung dari kayu dan bambu di belakang rumahnya.

Efendi, menamai Homestay-nya dengan Ijen Miner Family Homestay, atau homestay milik keluarga penambang Ijen. Arsitekturnya unik, didesain dengan model panggung. Didominasi bahan cor dan dihiasi dengan arsitektur anyaman bambu. Model homestay panggung, membuat pengunjung bisa menikmati bentang kebun kopi, pinus dan aneka bunga yang ditanam di sekitarnya.

Apalagi, kondisi cuaca wilayah Desa Tamansari dengan ketinggian rata-rata 500-1000 Meter di atas permukaan laut (Mdpl) membuat udara menjadi sejuk. Proses pembuatan homestay, keluarga Effendi membutuhkan waktu satu tahun. Mulai dari dana sampai tenaga pembangunan homestay dilakukan secara gotong royong keluarga besarnya.

"Satu keluarga kami kerjanya jadi penambang belerang, adik, kakak, sampai bapak. Homestay ini bikin sendiri dari hasil patungan satu keluarga. Pagi kerja di atas (nambang), pulangnya kerja di sini, proses pembangunan selama satu tahun," katanya.

Saat ini, keluarga Effendi sudah memiliki 10 kamar homestay panggung dan 6 kamar di rumahnya yang juga siap disewakan. Tarif satu kamar di Ijen Miner Family Homestay ditarif Rp 165 ribu per malam, sekaligus fasilitas makan dua kali.

"Awal buat sempat ditanya warga sekitar, buat apa bikin penginapan, karena sudah banyak hotel. Sekarang Alhamdulillah, sudah ada yang menginap, juga pernah sampai penuh," ujarnya.

Meski Effendi sendiri tidak sampai lulus sekolah SD, ke depan dia berharap anaknya bisa sampai selesai kuliah. Sebagai penambang, kecelakaan kerja merupakan hal yang sering terjadi. Effendi pernah tergelincir dan membuat kakinya sobek. Kemudian punggungnya retak akibat jatuh dari truk angkutan belerang.

Mengenai strategi pemasaran homestay, Effendi sering mendapat informasi dari temannya para penambang yang sudah menjadi guide. Dia sendiri juga sesekali menjadi guide, belajar bahasa asing dari kebiasaan mendengar percakapan turis.

"Sedikit-sedikit bisa Bahasa Inggris dan Perancis. Ya karena sering dengar bahasa dari para turis saat saya menambang. Kemudian saya catat dan coba praktekkan," tambahnya.

Saat ini, kata Effendi jumlah penambang belerang di Gunung Ijen semakin menurun, sekitar 250-300 orang. Sebagian besar sudah tidak menambang setiap hari, karena banyak yang memiliki pekerjaan sambilan, seperti menjadi guide dan membuka homestay.

"Saya sendiri dan kelurga, kalau sedang sepi tamu ya tetap pergi menambang," ujarnya.

Selain pemasaran lewat para guide, Effendi sudah memanfaatkan internet. Dia juga sudah memiliki website untuk homestay-nya, Ijenminer.com.

Sementara itu, Kepala Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Tamansari menjelaskan, Bambang Hadi Supriyadi, saat ini sudah ada 53 homestay yang dimiliki oleh warga sendiri. "Bumdes hanya ambil Rp 10 ribu. Kami bantu marketing, pajak juga kami yang bayar. Sebagian besar mereka buruh, petani dan penambang belerang," ujar Bambang.

(MH/MUA)
  1. Bisnis
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA