1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Menteri Siti Nurbaya kunjungi Cagar Budaya Biosfer Alas Purwo

Selain Alas Purwo, organisasi dunia di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) itu juga menetapkan Gunung Ijen sebagai Cagar Biosfer Dunia.

Menteri Siti Nurbaya bersama Bupati Azwar Anas. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mochammad Andriansyah | Senin, 28 Maret 2016 10:48

Merdeka.com, Banyuwangi - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengunjungi Taman Nasional (TN) Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo‎, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu sore (27/3).

Kedatangan Siti Nubaya bersama rombongannya itu untuk memastikan titel Cagar Biosfer Dunia yang disematkan the United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) ‎pada situs hayati miliki Bumi Blambangan, pekan lalu.

Selain Alas Purwo, organisasi dunia di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) itu juga menetapkan Gunung Ijen sebagai Cagar Biosfer Dunia.

Ditemani Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Siti dan rombongannya diajak masuk ke dalam hutan. Mereka melihat-lihat kawasan padang savana di Alas Purwo, mirip padang rumput di Afrika. Di sana, banyak habitat banteng dan merak.

‎Menurut Siti, hutan sebagai penopang kehidupan yang harus terus dijaga dan dilestarikan. "Indonesia memiliki banyak cagar biosfer. 51 lainnya sedang dalam proses penggarapan, termasuk di Ujung Kulon," teran Siti Nurbaya.

Sementara untuk Alas Purwo, lanjut dia, masih akan diajukan ke kementerian. "Ini (Alas Purwo), salah satu biosfer di Jawa, dan yang ada di Ujung Kulon. Jadi yang di Pulau Jawa ada di Ujung Kulon dan Ujung Timur, ujung ketemu ujung. Lokasi lainnya ada di luar Jawa," ucapnya.

Karena menjadi aset nasional, Siti Nurbaya juga berjanji akan membantu melakukan perbaikan akses jalan masuk menuju kawasan hutang lindung yang ada di ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Sebelum meninggalkan lokasi Alas Purwo, rombongan menteri menyempatkan diri melepas ratusan tokek (anak penyu) bersama Anas di Pantai Trianggulasi, yang juga berada di dalam hutan.

Seperti diketahui, UNESCO menetapkan dua situs hayati di Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai jaringan Cagar Biosfer Dunia. Dua lokasi itu adalah, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Ijen dan Taman Nasional (TN) Alas Purwo.

Penetapan oleh salah satu lembaga khusus di bawah sistem Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ini dilakukan pada 18 hingga 20 Maret 2016, saat sidang International Coordinating Council (ICC) Program MAB (Man and the Biosphere) UNESCO ke-28 digelar di Kota Lima, Peru.

Abdullah Azwar Anas sumringah mendengar kabar itu. Karena ini akan menjadi nilai tambah bagi daerahnya, yang mengangkat konsep ecotourism dalam pengembangan pariwisata.

"Program Cagar Biosfer selaras dengan komitmen kami mengusung konsep pengembangan wisata yang menyuguhkan keindahan lingkungan. Ini juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Banyuwangi," kata Anas, Rabu lalu.

Program sedekah oksigen

Pemkab Banyuwangi sendiri, lanjut Anas, memiliki sejumlah program menjaga kelestraian alam, salah satunya Program Sedekah Oksigen, yang diimplementasikan dalam gerakan penanaman pohon secara masif dan pengembagan hayati di seluruh Bumi Blambangan.

Sementara Gunung Ijen dan Alas Purwo, tergabung dalam Cagar Biosfer Blambangan bersama TN Meru Betiri dan TN Baluran, yang letaknya beririsan dengan Banyuwangi.

Sedangkan Biosphere reserves (cagar biosfer), merupakan situs yang ditunjuk pelbagai negara melalui kerja sama Program MAB-UNESCO. Tujuan dari program ini, mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan.

Cagar Biosfer Blambangan sendiri, meliputi kawasan seluas 678.947,36 hektare. Luas kawasan ini terbagi tiga zona, yaitu area inti, penyangga dan transisi. "Zona inti, luasnya 127.855,62 hektare. ‎Area ini meliputi empat kawasan konservasi terdiri atas tiga taman nasional, yaitu Alas Purwo, Baluran dan Meru Betiri," katanya lagi.

Kedua adalah zona penyangga. Area cagar alam penyangga ini berada di Kawah Ijen, dengan luas 230.277,4 hektare. Dan terakhir adalah zona transisi dengan luas 320.814.34 hektare. ‎"Ini juga akan menjadi promosi strategis bagi daerah. Karena ada 120 negara yang menjadi anggota MAB-UNESCO," ujarnya menegaskan.

Tiap tahun, anggota MAB-UNESCO melakukan pertemuan dan sharing tentang Cagar Budaya Biosfer. "Konsep cagar biosfer sendiri telah digagas oleh UNESCO sejak 1971 dan hingga saat ini jumlahnya mencapai 669 kawasan di 120 negara di dunia," terang Anas memungkasi.

(MT/MA)
  1. Info Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA