1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Para siswa SMA jalan-jalan di TNB belajar menjaga populasi satwa

Satwa-satwa yang dilindungi terancam punah. Salah satunya adalah banteng.

©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Selasa, 05 April 2016 10:22

Merdeka.com, Banyuwangi - Populasi Banteng di Taman Nasional Baluran (TNB) sekitar tahun 2000 pernah mencapai 500 ekor. Hewan yang masuk daftar terancam punah tersebut saat ini jumlahnya sudah di bawah 50 ekor. Penyebabnya sangat beragam. Mulai dari perburuan liar, ancaman alami dan adanya tanaman invasi atau tanaman asing yang mendominasi TNB.

Kondisi tersebut coba dikenalkan Balai Taman Nasional Baluran (TNB) kepada para siswa tingkat SMA. Terutama terkait ancaman tanaman invasif yang menjadi salah satu ancaman satwa lindung di TNB.

Acara berjudul “Youth for Conservation: Pengenalan Invasif Alien Species (IAS)” ini  berlangsung di Padang Savana TNB, Sabtu (2/4). Setelah dikenalkan, para siswa berlomba mencari foto bertema selamatkan sumberdaya lingkungan dari IAS.

Padang Savana TNB, dijuluki sebagai “Africa van Java”, lokasinya ada di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Lokasi Padang Savana yang menyerupai di Africa ini berjarak 12 Kilometer dari pintu masuk TNB.

Dalam acara tersebut, TNB mengundang Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Deputi Menko Perekonomian, Camat, Koramil, dan jajaran pejabat daerah lain. Sedangkan siswa tingkat SMA yang diundang berasal dari empat kabupaten, antara lain Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso dan Jember.

Dari 20 sekolah tingkat SMA yang diundang, sebagian besar berasal dari Banyuwangi, seperti SMA Ibrahimi Wongsorejo, SMAN 1 Genteng, SMAN 1 Glagah, SMAN 1 Purwoharjo dan masih banyak lagi.

Usai memberi materi kepada para siswa, Bambang Dahono Adji, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati mengatakan, kehadirannya semata untuk para generasi muda. Agar pengenalan konservasi dan penyebab ancaman satwa lindung bisa diketahui sejak dini.

“Saya datang jauh-jauh dari Jakarta untuk para generasi muda itu agar bisa dikenalkan tentang konservasi. Dari 25 spesies terancam punah yang ada di Alas Purwo, Baluran, Merubetiri dan taman nasional lain, harus dipertahankan keberadaannya. Jangan sampai seperti harimau jawa. Anak cucu kita tidak bisa melihat secara langsung,” ujarnya kepada Merdeka Banyuwangi.

Bambang melanjutkan, hewan lindung bukan hanya milik negara. Melainkan sudah dilindungi oleh negara internasional. Dia berharap, pemerintah daerah bisa bersinergi untuk membantu menjaga populasi hewan lindung. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga sudah membuat program karantina.  

“Karantina dibangun di sini. Santuari itu satwa dilepas-siapkan, tapi bisa dikontrol. Harapan kami di Baluran membangun manajemen populasi, menjaga keamanan perburuan liar dan menyadarkan masyarakat. Pemerintah derah juga ikut membantu,” imbuhnya.  

Menurut Bambang, seluruh taman nasional atau kawasan konservasi sudah memiliki karantina. Sehingga bisa menambah populasi hewan lindung yang terancam punah. “Dari 25 spesies lindung, target kami bisa naik 10 persen. Termasuk di ujung kulon seluas 5 ribu hektar itu, kan ada sanctuary juga. Sehingga badak di Ujung Kulon bisa berkembang,” jelasnya.

(MH/MUA)
  1. Wisata Sejarah
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA