1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Tanpa Iran, dominasi pembalap Eropa bakal berlanjut

"Tahun ini, tim asal Iran memang absen sementara di ITdBI karena ada kejuaraan serupa yang bersamaan di negaranya".

ITdBI. ©2018 Merdeka.com Editor : Endang Saputra | Selasa, 25 September 2018 14:02

Merdeka.com, Banyuwangi - Dalam enam kali penyelenggaraannya, gelar jawara International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) selalu didominasi pembalap-pembalap Eropa. Dua pembalap Asia, Mirsamad Pourseyedi (Iran) dan Ki Ho Choi (Hong Kong), memang menjuarai dua edisi pertama. Tapi setelah itu, pembalap Eropa lebih sering mencatatkan namanya sebagai yang tercepat.

Dominasi pembalap Benua Biru dimulai dari Peter Pouly (Prancis) yang langsung back to back juara dari 2014 dan 2015. Sempat lepas ke tangan pembalap Australia, Jai Crawford, pada 2016, tahun lalu mahkota ITdBI kembali jatuh ke tangan pembalap Eropa. Pembalap Italia Davide Rebellin menjadi juara dengan menyisihkan tim-tim Iran yang dikenal kuat di tanjakan.

ITdBI edisi 2018 yang digelar mulai besok Rabu (26/9) hingga Sabtu (29/9), tampaknya bakal kembali menjadi arena favorit pembalap Eropa. Apalagi, tim-tim Iran sedang absen. Termasuk tim Iran yang menjadi juara ITdBI tahun lalu yakni Pishgaman Cycling Team. Ini dikarenakan jadwal penyelenggaraan ITdBI bersamaan dengan kejuaran sepeda di Iran.

"Tahun ini, tim asal Iran memang absen sementara di ITdBI karena ada kejuaraan serupa yang bersamaan di negaranya," kata dia.

Para pembalap Eropa seperti Thomas Lebas (Prancis) dan Salvador Guardiora (Spanyol) bakal menjadi rekan setim yang menguntungkan Team Kinan. Sebab, dua-duanya spesialis tanjakan.

Khusus untuk Lebas, pembalap 32 tahun itu pernah menjuarai Le Tour de Filipinas 2015, Tour de Hokkaido 2013, Tour de Flores 2017, dan Tour de International de Setif 2014. Lebas yang pernah 'magang' di tim Pro Tour, Cofidis, itu tak hanya spesialis juara umum, tapi juga juara balapan yang umumnya berlangsung 3-4 hari.

"Kemampuannya pada jalur tanjakan sangat perlu diwaspadai," kata Event Director ITDBI 2018 Jamaluddin Mahmood.

Selain dua pembalap tersebut, beberapa nama pembalap climber lainnya antara lain Edgar Nohales Nieto yang kali ini datang bersama Ningxia Sports Lottery. Nieto termasuk rutin mengikuti ITdBI dengan beragam tim meski nasibnya tak selalu mujur. Tahun lalu bersama 7Eleven-Roadbike Philippines dia gagal karena faktor teknis.

Meskipun begitu, tak bakal mudah bagi rider Eropa untuk merebut gelar juara. Sebab, pembalap Benua Australia dan Asia juga bakal memiliki potensi yang sama. Apalagi, juara Tour de Siak 2018 Matthew Zenovich bakal kembali turun bersama St. George Continental.

Pembalap Selandia Baru itu juga spesialis balapan 3-4 hari dengan finis di tanjakan seperti di ITdBI. Dia juga tak asing dengan Banyuwangi karena juara etape tahun lalu.

Bahkan, jika melihat detail daftar pembalap St. George Continental, tim Australia itu hanya membawa pembalap spesialis general classification. Artinya, mereka menargetkan menjadi juara umum daripada harus mengejar kemenangan etape.

Meskipun begitu, persaingan di level pembalap sprint juga tak kalah seru. Selain punya dua climber, Team Kinan masih punya Genki Yamamoto yang merupakan juara nasional Jepang. Yamamoto merupakan pembalap spesialis sprint. Dia akan bersaing dengan Lex Nederlof dari Nex CCN Cycling Team dan Georgios Bouglas (Yunani) dari Ningxia Sports Lotter.

Untuk persaingan climber nasional, Dadi Suryadi dari PGN Road Cycling Team tetap menjadi idola utama. Pembalap yang kerap disebut sebagai 'Tonton Susanto' muda itu merupakan salah satu climber nasional terbaik. Dia akan bersaing dengan Endra Wijaya dan Aiman Cahyadi yang bertipe hampir sama.

Untuk sprinter, Projo Waseso dan Jamalidin Novardianto bakal bersaing ketat. Tapi Jamalidin yang kini memperkuat PGN Road Cycling Team bakal lebih unggul karena faktor usia.

"Tahun ini kemampuan peserta yang ikut cukup balance. Meskipun mereka semua punya kelebihannya masing-masing. Ada tim yang unggul di rute flat, juga ada yang sangat jago di jalur tanjakan. Jadi kemenangan di tiap etape tidak akan didominasi oleh satu tim saja," kata Jamal.

Tahun ini, ITdBI diikuti sebanyak 19 tim peserta dari 25 negara. Selain lima tim kuat Asia di atas, ada 14 tim lainnya yang akan berlomba menjadi yang terbaik dalam ITdBI 2018. Ke empat belas tim tersebut adalah Nex CCN Cycling Team dari Laos, FORCA Amskin dari Korea, Global Cycling Team dari Belanda, PCS CCN Cycling team Belanda, Thailand Continental Cycling Team, PGN Road Cycling Team Indonesia, Bike Life Dongnai Vietnam, KFC Cycling Team Indonesia, Advan Customs Cycling Team Indonesia, 7Eleven Philipina, Trengganu Cycling Team Malaysia, Java Partizan Serbia, Team McDonald Downunder Australia, Uijeongbu City Team Korea dan Banyuwangi Road Cycling Club( BRCC) Team Indonesia.

Sementara itu, Chairman ITDBI 2018 Guntur Priambodo menambahkan, tahun ini ITdBI digelar dalam empat etape dengan total lintasan sepanjang 599 KM.

"Rute ini akan ditempuh dengan melalui rute datar, rolling (naik turun) serta tanjakan hingga 1.800 m di atas permukaan laut (dpl) dengan katergori Hors Clas (HC) yang ada di lereng Gunung Ijen," kata Guntur.

Pada etape I, pebalap akan melintasi rute sepanjang 153,1 KM. Start dari depan kantor Pemkab Banyuwangi dengan finish di Rowo Bayu Kecamatan Songgon. Selanjutnya, pada etape 2 dengan jarak tempuh 179,3 KM, race akan dimulai dari Stasiun Kalibaru menuju finish di Kantor Bupati Banyuwangi.

Etape ke 3 akan menempuh 139,4 KM. Dimulai dari ruang terbuka Maron Kecamatan Genteng menuju finish di depan Kantor Pemkab Banyuwangi. Etape keempat merupakan etape terakhir menempuh jarak 127,2 KM. Start dari Desa Sarongan Kecamatan Pesanggaran, finish di Paltuding Ijen, Kecamatan Licin.

(ES) Laporan: Ahmad Suudi
  1. Olahraga
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA