1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Tari Padhang Ulan, Kembali Dibawakan Puluhan Siswa di SMKN 1 Banyuwangi

"Konsepnya membuat mereka bisa jadi 'artis', Anak-anak (para siswa jurusan tari) di desanya sudah tampil untuk panggung seni".

Tari Padhang Ulan. ©2018 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Senin, 12 November 2018 12:21

Merdeka.com, Banyuwangi - Puluhan siswa dari perwakilan sekolah se- Kabupaten Banyuwangi saling unjuk kemampuan di hadapan juri lomba Tari Padhang Ulan, satu dari puluhan tari kreasi di Kabupaten Banyuwangi yang populer di tahun 1970-an.

Dari siswa, Tari Padang Ulan berupaya dilestarikan dan dikenalkan. "Kalau Gandrung sudah pernah, ini coba milih tari Padang Ulan untuk dilombakan, agar lebih dikenal para siswa," kata Slamet Diarjo, Guru Jurusan Tari SMKN 1 Banyuwangi, Sabtu (10/11).

SMKN 1 Banyuwangi yang menjadi tuan rumah sekaligus penyelenggara lomba, sudah memiliki jurusan tari sejak 2015. Penari-penari baru dari kalangan muda akhirnya bisa mempelajari sisi seni tari secara akademis.

Slamet mengaku, anak didiknya tidak hanya belajar dan menari di ruang akademis, namun juga sering tampil di desanya masing-masing.

"Konsepnya membuat mereka bisa jadi 'artis', Anak-anak (para siswa jurusan tari) di desanya sudah tampil untuk panggung seni mulai janger dan pertunjukan seni lainnya," terangnya.

Menari, kata Slamet perlu dasar akademis untuk memperkuat teknik, hingga mendalami filosofi gerak tari. "Jurusan tari, para siswa belajar dasar tari, olah tubuh, kreativitas, sama tata busana," katanya.

Tari Padang Ulan, katanya, merupakan jenis kreasi dari seniman. Sementara tari yang tumbuh dari masyarakat di Banyuwangi seperti Gandrung, Seblang, Keboan dan Barong.

Selain Padang Ulan, di Banyuwangi punya puluhan tari kreasi yang lahir dari sanggar-sanggar seni. Dari puluhan sanggar yang ada, masing-masing minimal memiliki 5 tari kreasi.

"Ada juga yang satu sanggar punya 15 tari kreasi. Di Banyuwangi ada 24 sanggar, tiap sanggar ada 5 saja bisa dikalikan," jelasnya.

Sementara itu, penari senior Banyuwangi, yang menciptakan tari kreasi Padang Ulan, Sumitro Hadi (67) menjelaskan, tari Padhang Ulan dikreasi pada tahun 1969 dan kembali disempurnakan pada tahun 1975. ""Tahun 1969 masih seperti tari matrap, serampang 12," katanya.

Setiap padhang ulan, masyarakat nelayan di kawasan pesisir dan pantai akan libur melaut. Padhang Ulan dalam Bahasa Jawa berarti terang bulan, sebagai salah satu tanda para nelayan bakal sulit mencari ikan dikala sinar bulan terang benderang. Untuk mengisi waktu senggang, para nelayan punya budaya menikmati malam sambil memandang bulan di tepi pantai. Tepatnya, kata Sumitro, memadu kasih.

"Kalau sudah Padhang Ulan, banyak yang di pantai boom. di pantai, pelabuhan, orang-orang muda pada geredoan (pacaran). Sekarang ada tapi sembunyi-sembunyi. kalau dulu terang-terangan. Tarian ini menceritakan Anak-anak muda bercengkrama di pantai, laki perempuan. Senang-senang," jelasnya.

Sumitro mengatakan, tarian Padhang Ulan sangat populer di tahun 1970-an. Dia sendiri sering tampil di acara hajatan mulai dari kampung-kampung, kabupaten, hingga ke Jakarta.

"Padhang Ulan tari yang paling in (hits) itu, tahun 70-an. Ke jakarta tampil puluhan kali. Saya artis dari kampung ke kampung, sak kabupaten," kata pria kelahiran 1951 ini.

Sebagai kreator tari, Sumitro menilai tari Padhang Ulan masih kalah pupuler dengan jenis tari lainnya karena pergeseran gaya hidup yang dipengaruhi zaman.


"Ya kurang terkenal karena zaman, kalau di Surabaya di STKW (Sekolah Tinggi Kesenian WIlwatikta) harus bisa nari, ISI Solo juga, saya ngajar di sana," jelas pria kelahiran Gladak, Rogojampi, Banyuwangi ini.

 

(ES/MUA)
  1. Seni dan Budaya
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA