1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Ali Charisma ingin kebaya tak harus tampak eksklusif dan kaku

Membuat busana kebaya pun tak harus menggunakan bahan brokat ataupun satin.

Sejumlah model saat menampilkan busana kebaya casual di atas panggung Festival Kebaya Banyuwangi . ©2017 Merdeka.com Reporter : Farah Fuadona | Jum'at, 21 April 2017 19:19

Merdeka.com, Banyuwangi - Sejumlah desain kebaya karya desainer lokal Banyuwangi tampil dalam ajang Festival Kebaya Banyuwangi 2017. Pada gelaran itu, kebaya tak hanya merupakan sebuah pakaian yang menjadi identitas budaya saja. Melainkan merupakan salah satu media pengembangan kreativitas masyarakat.

Menurut Chairman Indonesia Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma, galeran fashion ini tidak hanya sekedar sebuah pagelaran fashion biasa. Karena dalam acara ini, Ali ingin menyatukan seluruh desain kebaya yang sudah ada di Indonesia untuk tampil bersama di atas panggung Festival Kebaya Banyuwangi ini, "Kita memang tidak bisa mengklaim kebaya seperti halnya batik yang memiliki motif berbeda di setiap daerah. Seluruh Indonesia punya budaya mengenakan kebaya. Justru dari panggung inilah, kita terlibat bersama untuk menghadirkan busana kebaya sebagai identitas nasional," ujar dia dalam jumpa pers Festival Kebaya Banyuwangi di Terminal Baru Bandara Blimbingsari, Jumat (21/4).

Bahkan kata Ali desainer asal Lebanon banyak menggunakan desain kebaya dalam setiap rancangannya. Ini membuktikan bahwa kebaya nusantara merupakan busana adiluhung yang memiliki desain universal. Menggunakan kebaya tidak melulu harus elegan dan formal, tetapi juga bisa dirancang sebagai busana ready to wear yang mudah dikenakan dalam setiap kesempatan.

Desain kebaya casual yang menggunakan bahan denim sebagai material utamanya
© 2017 merdeka.com/Farah Fuadona

Ciri khas kebaya menurut desainer kenamaan Lenny Agustin memiliki kerah yang rendah. Terdapat kancing bagian depan atau kutubaru, kutubaru adalah secarik kain yang menghubungkan lipatan kebaya di bagian dada. Memiliki model lengan baju yang pas saat digunakan. Serta yang terakhir memiliki potongan yang semakin mengerucut ke bawah.

"Kebaya itu bukan bahan apa yang digunakan. Kita bisa menggunakan bahan apa saja. Terpenting adalah sesuai dengan pakem dari ciri kebaya tersebut," kata dia kepada Merdeka Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Abdulah Azwar Anas menjelaskan, kebaya telah menjadi identitas nasional yang dipakai oleh seluruh lapisan masyarakat. Banyuwangi ingin mengambil kesempatan sebagai daerah yang pertama kali mengangkat kebaya sebagai bagian dari produk kreatif daerah selain batik.

"Desainer lokal tidak hanya kami pacu untuk meningkatkan kualitas batik, tapi juga mendapatkan peluang bisnis baru lewat kebaya. Sekarang desain kebaya lebih sporty dan fashionable. Ini bukan hanya pentas saja tapi juga pengembangan sektor budaya dan kreativitas masyarakat," kata Anas.

 

(FF/FF)
  1. Fashion
  2. Festival Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA