1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Terduga teroris PNS kampus Banyuwangi selalu jadi rebutan unit program studi

"Dia bertugas di bagian administrasi Prodi Manajemen Bisnis Pariwisata, tapi merangkap di Tim Jaringan IT, yang juga menangani data PDPT".

Massetya Mukti. ©2018 Merdeka.com Editor : Endang Saputra | Minggu, 05 Agustus 2018 15:58

Merdeka.com, Banyuwangi - Terduga teroris berinisial EPW, merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), Jawa Timur, yang paling rajin dan cerdas sehingga selalu jadi rebutan unit-unit program studi (prodi) kampus. Hingga ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Rabu (1/8) malam, EPW dipercaya menangani update data kampus ke pangkalan data pendidikan tinggi (PDPT) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).

Hal itu disampaikan Massetya Mukti teman satu kantor EPW, yang menjadi dosen pengajar di program studi Manajemen Bisnis Pariwisata kampus jenjang D4 itu. Dia mengatakan beberapa bulan terakhir, EPW sering lembur karena harus menyelesaikan tanggung jawabnya menangani PDPT kampus.

"Dia bertugas di bagian administrasi Prodi Manajemen Bisnis Pariwisata, tapi merangkap di Tim Jaringan IT, yang juga menangani data PDPT," kata Massetya kepada Merdeka Banyuwangi, Minggu (5/8).

EPW pernah membuat surat pernyataan mengakui dan taat pada Pancasila serta Undang-Undang Dasar (UUD), menepati sumpah jabatan dia sebagai PNS, serta tidak akan menjadi kepanjangan tangan jaringan teroris. pada Juni 2018. Kampus meminta EPW membuat surat pernyataan itu berdasarkan masukan dari Badan Intelijen Negara (BIN).

EPW merupakan warga asal Kabupaten Probolinggo yang tinggal bersama istri dan 2 anaknya di Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi. Masuk sebagai pegawai Poliwangi pada tahun 2013 dan diangkat menjadi PNS tahun 2014.

Atas penangkapan EPW, Poliwangi segera melakukan screening pada mahasiswa dan pegawai lainnya. Namun sanksi yang dikenakan kepada EPW belum ditentukan karena pimpinan kampus tengah menjalankan ibadah haji.

Massetya mengatakan, EPW tidak pernah memperlihatkan keganjilan. Tidak ada perilaku yang patut dicurigai. Hanya saja sering mengemukakan pendapat yang berbeda mengenai Imam Mazhab, dan teori Bumi Datar yang diyakininya sebagai sesuatu yang betul.

"Akhir-akhir ini memang dia semakin taat beribadah dan selalu mengingatkan kami untuk beribadah. Tapi tidak pernah mengajak masuk kelompok tertentu atau melakukan aksi yang aneh-aneh," kata dia.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, penangkapan yang dilakukan Densus 88 di Banyuwangi ini sebagai tanda bahwa masyarakat harus terus awas di lingkungannya. Masyarakat diminta terus mengawasi kemungkinan tumbuhnya paham radikal di tempat tinggalnya atau tempat kerjanya.

Anas mengatakan, Banyuwangi berupaya menangkal penyebaran pemikiran radikal dengan menghidupkan lagi budaya asli masyarakat. Tidak hanya orang-orang tua, pemuda dan PNS diajak bersama-sama mengerjakan dan
menonton gelaran tradisi lokal.

"Kebudayaan ini bisa jadi filter pada gerakan-gerakan radikal yang masuk ke masyarakat kita. Daerah yang jarang menghidupkan budaya akan jadi masalah," katanya.

 

(ES) Laporan: Ahmad Suudi
  1. Info Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA