1. BANYUWANGI
  2. PARIWISATA

Ini asal usul wisata Dermaga Bedul Banyuwangi

"Saya tahu, dulunya kan lahan petani, belum jadi hutan mangrove," ujar Miskar.

Dermaga Bedul. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Kamis, 14 April 2016 15:52

Merdeka.com, Banyuwangi - Ekowisata Mangrove Blok Bedul di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo mulanya hanya tempat nelayan mencari ikan, kerang, kepiting, udang dan jenis lain. Sama seperti di tempat lain. Belum ada pengunjung yang bisa menikmati indahnya hutan mangrove dan beraneka ragam biota laut di sana.

Siang itu, Merdeka Banyuwangi bertemu dengan Miskar (64) warga Sumberasri. Dia salah satu pelopor yang menjadikan Bedul sebagai wisata mangrove. Miskar, mulanya hanya juru antar nelayan yang ingin menyeberang Sungai Kere menuju teluk Ujung Purwo.

"Kalau saya tahun 1992 sudah mengantar nelayan. Cuma ngantar jemput nelayan-nelayan itu. Ya cari kerang, jaring, mancing," ujar Miskar, Rabu (13/4). Miskar paham betul sebelum Bedul menjadi tempat wisata.

"Saya tahu, dulunya kan lahan petani, belum jadi hutan mangrove," ujarnya. Itu terjadi sejak 1960-an, masyarakat boleh menanam tanaman seperti palawija. Baru pada 1976, kawasan tersebut menjadi hutan lindung. Para petani tidak lagi dibolehkan menanam di areal Taman Nasional Alas Purwo tersebut.

"Mulai tahun 1976 sudah ditutup. Tahun 1980 sudah jadi hutan lindung alam. Sekarang hutan lindung alam kerja sama dengan rakyat. Dijadikan wisata ini kan kerja sama rakyat. Sama-sama melindungi hutan, dari sana rakyat juga bisa dapat manfaatnya," tutur pria kelahiran 1952 ini.

Hasil swadaya nelayan dan kepala desa

Miskar sejak 1992 memang sudah mengantar dan menjemput para nelayan yang ingin menyeberang Sungai Kere. Sesampai di Teluk Ujung Purwo, para nelayan tersebut akan berjalan sejauh 800 meter menuju laut selatan.

Setiap hari, Miskar harus beradu dengan pasang surutnya air. Bila kondisi air surut, dia harus mendorong perahunya sampai di lokasi air dalam. Baru pada 2006, Miskar berpikir sepertinya butuh dermaga untuk berlabuh perahu. Tujuannya, agar Miskar siap antar jemput, tidak harus menata perahu, atau takut kandas akibat air surut. Dia lantas menemui Kepala Desa Sumberasri, Yanto.

"Sejarahnya mulai dari saya. Saya menemui Pak Yanto, dia langsung dukung ide saya buat dermaga. Soalnya jalanan selalu berlumpur, buat jalan ambles. Padahal nelayan kan terus bekerja. Supaya bisa jadi jalan (dermaga) kerja sama itu, gotong royong," kata Miskar.

Miskar lantas menjadi bendahara sekaligus pengumpul uang. Para nelayan yang diantar Miskar, setiap hari iuaran untuk membangun dermaga sepanjang 190 meter. Besaran iuran berbeda-beda, misalnya untuk satu meter bangunan awal iuran sebesar Rp 5 ribu per orang, lalu ada yang Rp 7 ribu per meter untuk bangunan tengah dan Rp 10 ribu per meter untuk bangunan ujung. "Soalnya kan, semakin ujung semakin dalam. Jadi butuh pekerja lebih banyak," terangnya.

Tanah yang berlumpur, di antara pohon mangrove, akhirnya perlahan dibangun. Pondasinya, terdiri dari batu, tumpukan tanah dan kayu gelondongan. Kayu tersebut dimanfaatkan oleh nelayan, hasil rampasan polisi hutan dari para penebang liar. Pada 2007 dermaga akhirnya selesai dibangun.

Setelah jadi, kepala desa lantas mengurus perizinan dari Taman Nasional Alas Purwo dan bantuan dana dari pemerintah agar bisa menjadi tempat wisata. Periode 2007 sampai 2009, kata Miskar, wisata Bedul sudah mulai banyak pengunjung. Terutama ingin melihat pemandangan hutan mangrove dan aktivitas burung migran.

Pada 2009 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akhirnya membantu membuatkan dermaga baru. Persis di sebelah dermaga buatan nelayan. Dermaga milik nelayan sendiri sudah mulai rusak akibat pondasi yang hanya dari tumpukuan batu, kayu dan tanah.

"Itu eranya Bupati Ratna. Bangun tiga bulan jadi. Pak Anas juga pernah ke sini, keliling naik perahu. Tapi sekarang pengunjungnya sudah mulai sepi," terang Miskar.

Dari informasi batu peresmian, Bupati Ratna Ani Lestasi meresmikan Ekowisata Mangrove Blok Bedul pada Oktober 2010. Wisata tersebut merupakan hasil kerja sama Taman Nasional Alas Purwo dengan Desa Sumberasri Kecamatan Purwoharjo.

"Pemerintah memang perlu mendukung seperti ini. Biar ekonomi masyarakat terangkat. Akhirnya sekarang saya tidak hanya mengantar nelayan, tapi juga wisatawan yang ingin melihat mangrove," tuturnya.

(MT/MUA)
  1. Wisata Pantai
  2. Wisata Alam
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA