1. BANYUWANGI
  2. PROFIL

Seniman ini coba bangkitkan lagi Sitar, alat musik langka di dunia

Menurut dia, musik Sitar berasal dan berkembang di Delhi, India. Pertama kali dikenalkan oleh ulama sufi Syeh Amir Kushru pada Tahun 1.230.

Hartoyo Hardjo Soewito. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Selasa, 22 Maret 2016 12:13

Merdeka.com, Banyuwangi - Hartoyo Hardjo Soewito pria kelahiran Madiun 21 Mei 1979 ini merupakan salah satu pemain musik Sitar yang terbilang langka. Menurut dia di Indonesia hanya ada enam orang yang bisa memainkan alat musik Sitar, termasuk dirinya. Dia belajar bermain Sitar sejak mendapatkan beasiswa di Karnataka University of Dhardward jurusan Antropologi Musik di India dan Halim Sitar Academy, Bombay, mulai 2010 sampai 2015.

"Awalnya mampu membuat alat musik Sitar, belajar sendiri, akhirnya dapat beasiswa," tuturnya kepada Merdeka Banyuwangi, Senin (21/3). Berawal dari situ, pria yang akrab dipanggil Yoyok Harness ini tertarik mempelajari sejarah perkembangan musik, terutama Hindustan Clasical Music.

Menurut dia, musik Sitar berasal dan berkembang di Delhi, India. Pertama kali dikenalkan oleh ulama sufi Syeh Amir Kushru pada 1.230, era kerajaan Moghul. "Beliau menjadi penasihat kerajaan Moghul, hakim juga menjadi seniman," jelasnya. Musik sitar sendiri merupakan gabungan dari musik Hindu bernama Rudravina dan alat musik dari Persia bernama tar.

Syeh Amir Kushru kemudian memainkan musik Sitar dengan lirik-lirik dan notasi lagu ciptaannya. "Waktu itu Delhi menjadi kesultanan Islam, sedangkan yang dipimpin banyak yang Hindu, jadi isi lirik-liriknya tentang kasih, toleransi tinggi dan kedalaman spiritual. Syair syair sufi," tutur Hartoyo.

Selain dirinya, ada lima pemain musik Sitar di Indonesia. Antara lain ada Mas Ucrit dari Bandung, Jarot asal Denpasar, Barok dari Malang, Negel seorang antropolog berusia 60-an tahun, tinggal di Gunung Penaggungan, dan terakhir Thomas Hanter dari Kanada.

Hartoyo sendiri saat ini berdomisili di Bali. Meski demikian, dia seringkali datang ke Banyuwangi, Aceh, Medan, Jakarta, Kalimantan dan Jember untuk bermain musik-musik tradisional Siter. "Jadi di setiap daerah tersebut akan selalu ada kolaborasi dengan seniman lokal, untuk menyuarakan isu-isu yang ada," jelasnya.

Pada pertengahan April mendatang, Hartoyo akan menjadi salah satu panitia dalam Festival Patrol Nusantara di Temenggungan. Sekaligus juga mengisi rangkaian acara festival dengan menjadi sutradara musik, tari dan teater berjudul 'Manusia Nol'.

"Selian itu, nanti awal September ada Ritual Musik Festival di Padang. September pertengahan ke Australia, dalam rangka pertukaran budaya," imbuhnya. Sejak kecil, Hartoyo memang sudah suka bermain musik. Dia juga memiliki darah seni dari Ayahnya sebagai dalang dan ibunya yang aktif dalam seni Kudalumping. Sebelum mendapatkan beasiswa, dia aktif bermain musik gitar.

Pada 2013, di sela studi musiknya di India, Hartoyo bergabung dengan kesenian di Aceh. Dia meminta kepada dosen pengajarnya agar bisa kuliah via online. Dengan musik Sitar, Hartoyo mengangkat isu-isu perdamaian, kemanusiaan, soal kopi Gayo dan isu-isu bencana Tsunami di Aceh. Salah satunya melalui syair lagu Smong.

"Bila ada gempa disusul air surut, janganlah kau mencari ikan. Larilah ke bukit yang tinggi," ujar Hartoyo, menirukan petikian lirik lagu Smong.

Menurut dia lagu Semong berasal dari Pulau Simeleu, yang berjarak 4,5 Mill dari bibir laut Aceh. Saat Tsunami terjadi pada 2004, Simeleu tidak terkena dampak besar. "Itu karena sering dinyanyikan saat menggendong anak dan dinyanyikan saat acara nikahan," katanya.

Selain aktif di kesenian Aceh, Hartoyo juga bergabung dengan Jaringan Festival Kampung pada 2014. Di sana, dia bersama Redy Eko Prasetyo, sebagai ketua berupaya menghidupkan kembali kesenian daerah. "Itu bagian dari keresahan infiltrasi musik barat. Jadi mau mengembalikan kampung berbasis kemanusiaan. Seni seni daerah, coba dihidupkan lagi. Untuk mengimbangi modernitas," tuturnya.

Saat ini, Jaringan Festival Kampung sudah berhasil memberdayakan Kampung Cempluk yang ada di Malang. Selanjutnya, pilihannya jatuh di Kampung Temenggungan, Banyuwangi. Semua dilakukan tanpa ada tujuan komersil. "Murni swadaya," tegasnya.

Hartoyo menjelaskan, generasi muda perlu memainkan musik-musik tradisional, tidak hanya Sitar. "Tidak hanya Sitar, bisa Gambus, Gamelan, Rebab, termasuk musik purba. Karinding. Selain memacu adrenalin, bisa menghasilkan kesantunan," tuturnya.

Kedepannya, dia akan menyebarluaskan musik Sitar kepada generasi muda. Menariknya, musik-musik tradisional seperti Sitar, berbeda dengan frekuensi musik Barat. "Kalau barat pakai kesepakatan frekuensi A 440 Kilo Herzt berbeda dengan musik tradisional timur, mereka mengenal 'Ngeng' tiba-tiba menyentuh perasaan kita. Bisa suara dentuman letusan gunung api, ombak, atau petir," tuturnya.

Selain itu, kata dia, orang Barat menyebut musik Timur memiliki frekuensi 430 Kilo Herzt. "Lebih rendah, dan menyentuh. Dan itu seperti Frekuensi bumi yang ada 430 k herzt. Jadi ibu kita yang ngomong," imbuhnya.

Sitar merupakan alat musik yang terbuat dari bahan kayu mahoni dan buah labu. Leher Sitar bernama Dandi sedangkan tabung dari labu disebut tabli.

Menurut dia, perkembangan musik Sitar di Indonesia masih jarang karena masih terbatas alat. "Buah labu di Indonesia tidak ada. Adanya seputaran India dan Afrika. Kita punya buah maja, tapi tidak sebesar di sana," ujarnya memungkasi.

(MT/MUA)
  1. Info Banyuwangi
  2. Seni dan Budaya
  3. profil
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA