1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Peluang budidaya lebah alami, omzet hingga Rp 8 juta per bulan

Usaha budidaya lebah tidak perlu mengeluarkan modal produksi.

©2017 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Jum'at, 28 April 2017 15:02

Merdeka.com, Banyuwangi - Pekarangan rumah Samsul Hadi (49), warga RT 05/01 Lingkungan Secang, Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi dikelilingi 30 kotak kayu yang berisi sarang lebah (stup). Hanya bermodal kotak kayu untuk tempat stup lebah, Samsul bisa meraih omzet hingga Rp 8 juta per bulan, terutama saat musim panen madu tiba.

Agar menghasilkan madu alami, lebah-lebah yang dibudidaya, kata Samsul, tidak perlu dikasih makanan. Dia hanya butuh menunggu frame (tempat bertelur anakan lebah) penuh dan siap panen setiap satu bulan sekali.

"Kalau dikasih makan seperti gula, hasil madunya akan jelek, banyak kadar airnya. Kalau punya saya dibiarkan saja, langsung menyerap sari bunga dari tanaman sekitar," ujar Samsul saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu.

Samsul bercerita, usaha budidaya lebah bisa dikatakan tidak perlu mengeluarkan modal produksi, bila semua bahan pembuatan sarang sudah dimiliki. Pembudidaya hanya cukup membuat kotak sarang dari kayu yang lunak seperti randu dan sengon sebagai sarang lebah.

Selebihnya, hanya menunggu manisnya madu dan anakan lebah yang bisa diracik menjadi kuliner. Dalam budidaya lebah, kata Samsul yang perlu diperhatikan harus rutin memanen madu dan frame anakan lebah. Bila tidak dipanen, koloni lebah akan pergi dari sarangnya.

"Harus rutin dipanen sebulan sekali. Kalau tidak, frame dalam sarang akan penuh, dan lebah dipastikan akan mencari sarang lain," ujarnya.

Selain itu, agar koloni lebah tidak kabur, hanya perlu memastikan tidak ada semut dan kupu-kupu yang masuk ke dalam sarang. Samsul mulanya hanya seorang pencari madu di hutan kawasan KKPH Banyuwangi Utara sejak tahun 1980-an. Baru pada tahun 2000-an dia coba membuat stup di sekitar pekarangan rumahnya.

"Waktu itu hanya beberapa saja. Saya rasakan kok enak bikin setup saja, hasilnya lebih menguntungkan dan tidak perlu lagi ke hutan. Baru tahun kemarin ini saya coba buat banyak," jelasnya.

Puluhan stup yang dibuat Samsul, tidak langsung bisa ditempati koloni lebah. Caranya, memasuki bulan September sampai Oktober menghadapi musim hujan, sebagian besar lebah melakukan hijrah untuk mencari sarang baru. Stup-stup yang sudah dibuat harus ditebar di kebun-kebun agar cepat ditempati lebah. Baru kemudian dipindahkan di dekat pekarangan rumah. "Waktu itu saya nebar 35 stup. Hasilnya ada 21 stup yang ditempati lebah," jelasnya.

Baru pada bulan November sampai Februari saat musim madu, Samsul sudah bisa langsung panen raya. Selama empat bulan masa panen, produktivitas madu akan meningkat setiap bulannya, satu stup bisa menghasilkan 600 ml hingga 1 liter. Dari 30 stup yang dimiliki, rata-rata Samsul bisa mendapatkan 30 botol berukuran 450 ml.

Satu botol madu ukuran 450 ml, Samsul menjual dengan harga Rp 200.000. Bila dijumlah, dalam satu bulan Samsul bisa mendapatkan pemasukan antara 6-8 juta per bulan. Sedangkan jika ditotal selama empat bulan masa panen, dia bisa mengantongi hingga Rp 30 juta lebih.

"Kalau diluar musim ya tetap ada madunya, tapi tidak terlalu banyak," lanjutnya.

Meski diluar musim panen madu, Samsul masih mendapatkan untung dari penjualan anakan lebah setiap bulannya. Setiap stup, rata-rata bisa mencapai 10 frame anakan lebah. Saat panen, rata-rata dia menyisakan 4-5 frame agar lebah tidak kabur.

Satu kilogram anakan lebah madu, dijual dengan harga Rp 40-50 ribu. Dari 30 stup, Samsul bisa panen 15 Kg anakan lebah dari 30 stup yang dimiliki.

Lebah yang dibudidaya Samsul, sebagian besar mengambil sari madu dari bunga-bunga kelapa. Sisanya dari bunga kopi, durian dan buah-buahan lain. Tempatnya memang potensial, apalagi di Kalipuro merupakan sentra penghasil kelapa terbesar di Banyuwangi.

Ke depan, Samsul menginginkan desanya bisa menjadi wisata budidaya lebah yang bisa menjadi tempat edukasi. Hanya saja, sebagian besar masyarakat masih suka memilih mencari madu di hutan dengan cara konvensional.

"Cita-cita saya di sini bisa jadi tempat jujukan edukasi. Kemarin sempat ada perusahaan yang siap menerima dalam jumlah besar, tapi saya belum sanggup, karena di sini masih sedikit yang budidaya lebah," ujar dia.

(MH/MUA)
  1. Bisnis
  2. Wirausaha
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA