1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Pencak Sumping, tradisi kuno para pendekar di Banyuwangi

"Kalau Pencak Sumping ini untuk hiburan rangkaian seni dalam bersih desa," kata Asran.

Pencak Sumping. ©2017 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Selasa, 05 September 2017 13:39

Merdeka.com, Banyuwangi - Masyarakat Dusun Mondoluko, Desa Tamansari, Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi punya tradisi kuno Pencak Sumping yang masih dilestarikan. Setiap Bulan Idul Adha, warga Dusun Mondoluko mengundang puluhan jawara pencak silat lintas generasi se-Kabupaten Banyuwangi untuk tampil dalam rangkaian ritus bersih desa.

Asran (70), Ketua Pencak Silat Cibagor, sekaligus panitia penyelenggara bercerita, tradisi Pencak Sumping dalam ritus bersih desa sudah berlangsung ratusan tahun secara turun-temurun. Dia sendiri tidak mengetahui sejak kapan tradisi tersebut mulai diselenggarakan. Tapi yang jelas, kata Asran, tradisi tersebut tidak jauh dari asal mula nama Dusun Mondoluko.

Dari cerita turun temurun, Asran mengatakan, Dusun Mondoluko pernah dipimpin oleh seorang raja dan meninggal dengan kondisi terluka, karena tidak menguasai ilmu bela diri. Sang ratu kemudian diminta untuk belajar ilmu silat agar bisa membela diri saat berperang.

"Mondol artinya luka yang parah, dan disebut Mondoluko. Sejak saat itu ratu bersama rakyatnya rutin belajar silat. Bahkan Anak-anak mulai usia 7 tahun juga sudah belajar, baik Laki-laki dan perempuan," terangnya kepada Merdeka Banyuwangi, Jumat (1/9).

Pencak Silat Cibagor yang dimiliki Dusun Mondoluko, kata Asran akhirnya dipelajari setiap generasi. Sementara istilah Pencak Sumping, berawal dari peristiwa pagebluk yang mengakitbatkan banyak orang meninggal, sehingga diadakan ritus bersih desa untuk menghilangkan petaka tersebut.

Ritus bersih desa yang berlangsung setiap Bula Idul Adha. Warga mondoluko, mengarak dan menaruh sesaji di setiap sudut desa. Saat menaruh sesaji, warga mengumandangkan adzan dan membaca salawat. Kemudian dilanjutkan berziarah ke makam nenek moyangnya, Buyut Surat dan Buyut Jarat.

"Kalau Pencak Sumping ini untuk hiburan rangkaian seni dalam bersih desa itu. Setiap pendekar yang bermain, kalau kalah nanti sama temannya dikasih makan sumping (jajanan tradisional)," ujar Asran.

Kali ini, ada 50 perguruan pencak silat yang datang ke Dusun Mondoluko untuk tampil dalam tradisi Pencak Sumping. Mulai Anak-anak dari usia 9 tahun hingga orang dewasa tampil menunjukkan seni bela dirinya. Sementara puluhan Ibu-ibu terus memasak sumping, jajanan yang terbuat dari tepung beras dan pisang. Bila sudah matang, akan terus disajikan kepada para pendekar.

"Selain sebagai ajang silaturahmi, pencak sumping ini juga jadi tempat saling mengingatkan. Ilmu bela diri bukan untuk kesombongan, hanya untuk jaga diri," ujar dia.

(FF/MUA)
  1. Seni dan Budaya
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA