1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Student Jazz Festival, cara Banyuwangi ajak pemuda kreatif aransemen musik

"Total peserta yang ikut kali ini ada 30 grup. Semoga ini bisa menjadi panggung kreatif untuk mengeksplorasi potensi dan bisa bertemu komunitas".

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko. ©2018 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Minggu, 26 Agustus 2018 11:37

Merdeka.com, Banyuwangi - Puluhan siswa-siswa tingkat pendidikan SMP hingga SMA memadati Gedung Kesenian dan Budaya (Gesibu) Taman Blambangan, Kabupaten Banyuwangi. Para musisi muda ini sedang berkompetisi dalam Festival Jazz Student, menampilkan aransemen musik jazz terbaiknya mulai pagi hingga malam Sabtu (25/8).

Saat pembukaan, sejak pukul 10.00 WIB, Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko menyapa para generasi millenial di Banyuwangi dengan menabuh drum yang diiringi kolaborasi musik tradisional.

Tabuhan drum Yusuf disambut meriah generasi muda di Banyuwangi, sekaligus menandakan kompetisi tahunan untuk kali ketiga ini telah dimulai.

Tidak hanya dari Banyuwangi, kompetisi Student Jazz Festival juga diikuti peserta asal Jember, Bali dan Surabaya. Yusuf berharap, event ini bisa menjadi ruang ekspresi dan jalan menuju komunitas jazz yang bisa membesarkan karir generasi musisi di Banyuwangi.

"Total peserta yang ikut kali ini ada 30 grup. Semoga ini bisa menjadi panggung kreatif untuk mengeksplorasi potensi dan bisa bertemu komunitas-komunitas jazz yang bisa memberi jalan," ujar Yusuf.

Para peserta saling membawakan musik jazz dengan kreativitas aransemen dengan lagu-lagu ethnik. Siang ini para peserta akan diseleksi dan dipilih lima terbaik.

"Lima terbaik akan tampil malam nanti," kata dia.

Para peserta yang ikut dalam event ini terlihat percaya diri. Rata-rata mengenakan pakaian seperti musisi jazz dengan perlengkapan seperti topi, kemeja lengan panjang, ada juga yang berdasi seperti musisi Eropa.

Peserta nomor urut pertama, kali ini dimainkan grub band Smasa dari SMAN 1 Genteng. Dengan enam personil, para musisi muda ini membawakan lagu lokal Banyuwangi berjudul Cemeng dengan aransemen jazzy, namun menggunakan gabungan alat musik tradisional dan modern.

Grup Smasa menampilkan duet dua vokalis Galuh dan Sabrina. Keduanya saling menggunakan vokal cengkok lagu berbahasa Using, yang merupakan etnis lokal Banyuwangi. Sementara improvisasi banyak dimainkan oleh pemain piano, diiringi gendang dan gitar.
"Konsep kami ingin karya musik yang ditujukan bisa menguatkan identitas daerah Banyuwangi, digabung dengan musik modern," kata Sodho Lanang, pemain pioano grup Smasa Band usai penampilannya.

Lewat penampilannya, grupnya ingin mengenalkan bahwa musik etnik tidak hanya Jawa, Bali yang dinilai lebih familiar masyarakat Indonesia pada umumnya, namun juga ada musik etnik Using.

"Menunjukkan kalau musik etnik tidak hanya Jawa, Bali, Sumatra, banyak yang belum tahu kalau ada musik etnik Using. Kami ingin kuatkan identitas daerah kami," katanya.

Siswa kelas 3 SMAN 1 Genteng ini rutin mengikuti even Jazz Student Festival yang sudah digelar tiga kali berturut-turut tiap tahunnya.

"Tahun pertama menang jadi lima penyaji terbaik, kemarin enggak, dan kali ini semoga menang," kata Sodho.
Sodho sejak duduk di bangku SD sudah belajar musik klasik piano. Belakangan dia baru mendalami Jazz, terutama setelah mengikuti even yang digelar di Banyuwangi.

"Bagi saya jazz itu sebuah kebebasan, kebebasan berekspresi, jadi bukan lagi kayak genre menurut saya, semua musik bisa dijazkan. Sebelumnya saya nggak kenal musik jazz. Basic saya musik piano klasik latihan sejak SD," katanya.

(ES/MUA)
  1. Musik
  2. Festival Banyuwangi 2018
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA