1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Zawawi Imron bacakan puisi yang dia ciptakan di Banyuwangi tahun 1964

Dia menganggap Banyuwangi merupakan tanah air kelahiran kedua setelah Madura.

Zawawi Imron. ©2017 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Senin, 01 Mei 2017 16:50

Merdeka.com, Banyuwangi - Penyair Zawawi Imron membacakan karya puisinya yang terkenal berjudul "Ibu" di hadapan ratusan peserta bedah buku kumpulan cerpen dan puisi "Jejak Rasa The Sunrise of Java". Sebuah kumpulan karya yang lahir dalam Festival Sastra, diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Dia bercerita bahwa puisi "Ibu" tercipta saat dia merantau di Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi pada tahun 1964. Saat itu, Zawawi membutuhkan waktu dua tahun untuk merumuskan naskah puisi tentang kerinduan dan perjuangan Ibunya itu.

"Saya buat puisi ini di Rogojampi tahun 1964, ketika rindu kepada Ibu di Madura. Judulnya ibu. Namun tidak selesai saya tulis, lalu saya kembali pulang dan dua tahun kemudian tahun 1966 saya kembali ke Rogojampi, gambaran pengorbanan Ibu semakin jelas dan akhirnya berhasil menyelesaikan puisi itu," ujarnya usai penutupan Festival Sastra dan bedah buku di Pendopo Sabha Swagata Blambangan.

Penyair kelahiran 1 Januari 1945 ini, sudah mengenal Banyuwangi sejak muda. Saat masa pemerintahan Soekarno, Zawawi datang ke Banyuwangi untuk belajar dan aktif berkesenian, hingga melahirkan puisi yang terkenal berjudul "Ibu".

Dia menganggap Banyuwangi merupakan tanah air kelahiran kedua setelah Madura. "Saya sudah tujuh kali diminta tampil di Internasional, salah satunya di Den Haag, Belanda, untuk membacakan puisi "Ibu". Saya sudah menganggap Banyuwangi sebagai tanah air kelahiran kedua," ujar penyair dalam Film Bulan Tertusuk Ilalang ini.

Selain puisi berjudul "Ibu" Zawawi juga pernah menulis puisi berjudul "Desaku" yang dia tulis saat melakukan perjalanan dari Parijatah, Kecamatan Srono ke Songgon Kabupaten Banyuwangi pada tahun 1967. Hasilnya, Zawawi memperoleh juara puisi terbaik se-Indonesia pada tahun 1979.

Zawawi membacakan puisi "Ibu" dengan lantang. Dia ingin memberi semangat kepada karya-karya puisi generasi muda Banyuwangi dalam Festival Sastra sudah memiliki spirit. Ada yang menulis puisi tentang semangat historis penjajahan Belanda, ada juga tentang legenda asal mula nama Banyuwangi yang dikemas dalam sebuah puisi.

"Anak-anak usia segini sudah bisa membuat puisi seperti ini. Ada yang menyebut nama-nama tokoh sejarah, ada juga yang tidak menyebut nama tapi spirit puisi seperti jiwa zamannya sangat kuat. Artinya Anak-anak masih punya refleksi historis," jelasnya.

Berikut petikan puisi Zawawi yang berjudul Ibu

Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir

Bila aku merantau
Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan

Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
Ibu adalah gua pertapaanku
Dan ibulah yang meletakkan aku di sini

Saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
Ibu menunjuk ke langit, kemundian ke bumi
Aku mengangguk meskipun kurang mengerti

Bila kasihmu ibarat samudera
Sempit lautan teduh
Tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
Tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
Lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku

Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
Lantaran aku tahu
Engkau ibu dan aku anakmu

Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala

Sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru
Dengan sajakku.

(FF/MUA)
  1. Seni dan Budaya
  2. Festival Banyuwangi
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA