1. BANYUWANGI
  2. KOMUNITAS

Nelayan dan pegiat lingkungan tanam pohon di Pondoknongko

Pondoknongko merupakan salah satu rumah berabam satwa liar.

Aktivis lingkungan di Pondoknongko. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Senin, 06 Juni 2016 16:03

Merdeka.com, Banyuwangi - Muara sungai dan sepanjang garis pantai di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, dikenal sebagai salah satu rumah beragam satwa liar. Mulai dari aneka burung yang menetap, tempat burung migran, buaya, ular, monyet, tempat bertelur penyu dan tentunya beragam biota laut lain. Uniknya, lokasi tersebut berada di dekat pusat Kota Banyuwangi.

Para penyu biasa bertelur di sepanjang garis pantai yang dikenal dengan nama Kedung Derus ini. Sedangkan habitat buaya, burung, ular dan monyet, berada di rawa-rawa. Di samping garis pantainya.

Sore itu, bertepatan dengan hari lingkungan hidup sedunia, para nelayan, pegiat lingkungan, mahasiswa pencinta alam dan komunitas, menggelar acara tanam pohon di samping rawa, pantai Kedung Derus. Tujuannya, agar menjadi tempat persinggawan burung dan penyeimbang ekosistem di sana.

"Ini ada bibit sengon laut, mindi, sawo kecik, trembesi. Nanti harapannya bibit pohon ini setelah besar bisa menjadi tempat bersinggah burung-burung di sini," kata L. Andre Saputra, Presiden BEM Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba), kepada Merdeka Banyuwangi, Minggu (5/6).

Andre merupakan penggerak jaringan pegiat lingkungan dan komunitas, yang ikut dalam acara tanam pohon tersebut. Sekitar dua puluhan orang lebih yang ikut serta, ada juga dari Mahasiswa Pencinta Alam Uniba (Mapaba), Komunitas Pencinta Wisata Banyuwangi (Kopiwangi), Wanabakti dan Seasoldier.

Baru kemudian para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) Deling Seganten. Sejak pukul 14.00 WIB, para peserta harus menyeberang muara sungai Pondoknongko menggunakan perahu dayung. Kemudian berjalan menuju lokasi tanam pohon, dekat kawasan rawa. Sepanjang pesisir pantai terlihat ratusan pohon cemara dan mangrove yang baru ditanam.

Abdulrosyid, anggota Pokmaswas Deling Seganten, mengatakan penanaman pohon cemara dan mangrove di sepanjang garis pantai, murni dari kesadaran nelayan. Saat melihat daratan pantai yang semakin habis akibat abrasi, serta pendangkalan sungai akibat erosi. Dari keresahan bersama tersebut, pada Januari 2014, para nelayan membentuk kelompok Pokmaswas Deling Seganten.

"Terbentuknya dari keprihatinan nelayan, gara-gara rusaknya pesisir pantai. Erosi sungai, abrasi. Jadi kami mulai menanam mangrove, cemara. Penanaman ini yang ke empat kalinya," ujar Abdulrosyid.

Tidak hanya penanaman pohon, Pokmaswas Deling Seganten juga menjaga satwa yang ada di muara dan pesisir Pondoknongko. Terutama dari aktivitas perburuan burung, ular, buaya, potasium ikan, pencurian telur penyu, dan semua aktivitas yang dapat merusak ekosistem di sana.

"Jadi ini sudah menjadi area konservasi. Aktivitas menangkap burung sejak ada kelompok sudah mulai diantisipasi. Ada Perdes, minta ke kepala desa, Februari tahun lalu. Ya Alhamdulillah kepala desanya mendukung. Jadi orang melanggar diperingati dulu, melanggar lagi alatnya disita dan harus ganti rugi," ujar Abdulrosyid.

Selama penanaman bibit pohon, sawo kecik, trembesi, sengon laut dan mindi, para nelayan dipandu oleh Putri, pegiat lingkungan Seasoldier dan aktivis pencinta alam dari Uniba. Putri berulangkali mengingatkan jangan sampai meninggalkan sampah plastik. Bekas plastik poliback bibit tidak boleh ikut ditanam. Dia juga mengajarkan agar membawa jenis makanan yang tidak meninggalkan sampah plastik dalam setiap acara.

"Karena sampah plastik itu tidak dapat terurai. Makanya kami membawa jenis makanan kentang, kacang rebus, dan air galon, agar tidak meninggalkan sampah plastik. Mencintai lingkungan harus dimulai dari kesadaran individu," ujar Putri.

Jumlah bibit yang ditanam ada sekitar 60-an untuk sawo kecik. Jenis tanaman yang mulai tergolong jarang tersebut selesai ditanam sekitar pukul 4 sore. "Bibit lainnya akan menyusul, sementara ini dulu, ada beberapa jenis nangka, sirsak, mindi, trembesi dan sengon laut," ujar Andre.

Selain itu, ketua Pokmaswas Deling Seganten, Haironi mengatakan jumlah anggotanya saat ini ada 35 orang. Sebagian besar terdiri dari nelayan, ada juga tokoh masyarakat, pekerja bangunan dan petani. Dia berharap, wilayah konservasi pantai, muara dan rawa serta satwa yang ada di dalamnya bisa menjadi wisata edukasi bagi masyarakat.

"Luas wilayah konservasinya ada lima hektare. Dari tahun kemarin sudah penanaman seribu pohon cemara, mangrove, dan pelepasan seribu tukik. Kegiatan menanam ini biar menarik macam-macam satwa. Keinginan teman teman ada manfaat lah, kalau jadi wisata ya alhamdulillah. Inginnya wisata edukasi. Tapi untuk saat ini kami murni konservasi," kata Haironi.

(MT/MUA)
  1. Komunitas
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA