1. BANYUWANGI
  2. PROFIL

Inilah Afi, siswi asal Banyuwangi yang tulisannya menggegerkan Sosmed

Dalam sebulan, Afi menargetkan membaca buku minimal tiga buku.

Asa Firda Inayah bersama ayahnya. ©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Kamis, 18 Mei 2017 17:16

Merdeka.com, Banyuwangi - Tulisan Asa Firda Inayah (19) berjudul 'warisan' di akun Facebooknya Afi Nihaya Faradisa, kembali jadi viral. Para netizen, banyak yang memuji bahkan mempertanyakan apakah tulisan tentang nilai keberagaman dan Bhineka Tunggal Ika tersebut bisa ditulis oleh anak seusia Asa.

Facebook Asa, sudah memiliki 268 ribu pengikut, dengan tiga kali tulisan yang viral di Medsos. "Setiap hari saya nulis di buku, mulai SD. Kalau tulisan di Facebook banyak, tapi yang paling viral ada tiga," ujar Asa yang lebih akrab dipanggil Afi, kepada Merdeka Banyuwangi, Kamis (18/5).

Afi merupakan nama pena Asa. Semalam, akun Facebook Afi sempat disuspend, diduga karena banyak yang melapor akibat tidak suka dengan tulisannya.

Sejak ditulis 15 Mei, pukul 10.21 WIB tulisan Afi berjudul 'Warisan' sudah dibagikan 16 ribu kali, 38 ribu komentar dan 32 ribu reaksi.

Siswa SMA 1 Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, ini bercerita sebagai pemuda Indonesia dia memang ingin turut menyebarkan pesan perdamaian. Menurut dia, Indonesia masih sensitif dengan isu SARA.

"Seperti isu SARA saat Pilkada, Pilpres. Jadi saya ingin mengajak pembaca berpikiran terbuka, tentang perbedaan, dan hal hal baru. Agar mendapatkan keuntungan demografi, angkatan 20-an bisa turut serta memberikan pesan perdamaian," ujarnya panjang lebar, sambil ditemani orang tuanya.

Anak pasangan Imam Wahyudi (47) dan Sumartin (47), ini mengaku mendapatkan gagasan menulis dari pegalaman keseharian dan membaca buku. Dia sendiri juga sudah terbiasa menulis sejak SD. Sudah ada 5 buku hariannya yang sudah terisi, dengan masing-masing halaman 100.

"Mulai menangkap ide dari baca buku, pengamatan lingkungan, dan kejadian sehari-hari," ujar penyuka kuliner nasi kuning ini.

Dalam sebulan, Afi menargetkan membaca buku minimal tiga buku. Bila sedang banyak kegiatan, paling tidak dia bisa habis membaca satu buku. "Jadi paling gak setiap hari harus baca. Kapan aja waktunya," ujarnya.

Baru-baru ini, Afi membaca buku psikologi populer The Magic of Thinking karya David Schwartz dan buku Seven Habits of Highly Effective. Saat ini, Afi sudah memiliki koleksi buku hampir seratus.
"Sebagian beli, banyak yang dikasih juga," tuturnya.

Pertama memiliki smartphone, hingga membuat Afi dikenal publik, dia miliki dari hasil menabung. Uang saku sekolah kisaran Rp 5000 dari orang tuanya setiap hari, dia kumpulkan selama satu tahun.
"Ini smartphone pertama. Harganya Rp 600 ribu dari nabung selama satu tahun lebih. Dari uang saku dari orang tua kelas satu SMA paling besar Rp 5000," ujarnya.

Sementara itu, Imam Wahyudi, yang mendampingi anaknya mengatakan, sempat khawatir karena Afi sering terlihat asik bermain handphone hinggal larut malam.

"Dulunya saya batasi, waktu kelas dua HP-nya pernah saya sita 10 hari. Karena tidur sampai malam hari. Tapi setelah tahu, saya bangga," ujar Imam.

Setiap hari, Imam bekerja sebagai pedagang makanan ringan (Cilok) keliling ke sekolah-sekolah. "Saya jual cilok, keliling ke sekolah-sekolah. Pernah saya tawari agar ganti HP, karena sudah jelek. Tapi dia tidak mau," ujarnya.

Saat ini, Afi sudah diminta oleh penerbit buku dari Mizan untuk menulis. Ke depan, dia ingin melanjutkan ke perguruan tinggi mengambil jurusan komunikasi atau psikologi.

(MT/MUA)
  1. profil
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA