1. BANYUWANGI
  2. SENI DAN BUDAYA

Melihat tradisi Resik Lawon, mencuci kain kafan nenek moyang

Semua aktivitas mencuci ini hanya dilakukan oleh Laki-laki. Para perempuan, bertugas untuk menyiapkan kuliner tradisional untuk dimakan bersama.

©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Jum'at, 12 Mei 2017 13:05

Merdeka.com, Banyuwangi - Masyarakat Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kabupaten Banyuwangi terlihat sibuk melakukan tradisi Resik Lawon. Sebuah tradisi mensucikan  baju nenek moyang. Ritual ini, sudah berlangsung turun temurun sejak masa kerajaan Macan Putih tahun 1530.

Mulanya, masyarakat Cungking mengambil kain-kain kafan yang melindungi pusara nenek moyang Buyut Cungking. Kemudian diarak dengan jalan kaki menuju sungai sejauh 2 Kilometer untuk dicuci.

Usai dibersihkan, kain-kain kafan ini kemudian dibawa ke rumah Juru Kunci untuk dibilas dan diperas melalui media dua ember air besar. Uniknya, semua aktivitas mencuci ini hanya dilakukan oleh Laki-laki. Para perempuan, bertugas untuk menyiapkan kuliner tradisional untuk dimakan bersama.

Setelah satu per satu kain kafan dibilas, air bekas bilasan di dua ember langsung diserbu oleh warga untuk dibagi ke botol-botol air mineral. Warga percaya, air bekas bilasan kain kafan ini bisa membawa berkah bila diminum.

"Air dipercaya bisa menghilangkan hama kalau dipercikan ke sawah, menjauhkan dari petaka dan bisa diminum untuk barokah," ujar Jam'i (60) Juru Kunci Tradisi Resik Lawon, Kamis (11/5).

Sebagai juru kunci generasi ke sembilan, Jam'i kemudian memimpin prosesi penjemuran kain kafan. Warga bergotong royong menjemur kain di sepanjang 100 meter di jalan samping rumah dengan tinggi kurang lebih 10 meter.

Kain-kain kafan ini, bila disambung memiliki panjang sekitar 32 meter, masing-masing memiliki fungsi untuk kelambu sampai mengemas patokan. Untuk kain kafan yang sudah jelek akan dikubur, dan diganti dengan yang baru.

"Istilahnya, kami mengganti baju Buyut Cungking. Setahun sekali pada jelang menghadapi bulan suci Ramadan," jelasnya.

Selama proses menjemur, kain kafan tidak diperbolehkan sampai menyentuh tanah. Puluhan warga bergotong-royong menjemur dengan diikat menggunakan tali dari bambu. Baru kemudian ditarik ke atas.

Agus Hermawan (37), Ketua Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara Kabupaten Banyuwangi mengatakan, tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun. Lewat Tradisi Resik Lawon, masyarakat terus menghargai jasa nenek moyangnya yang telah babat alas di Cungking.

Dia melanjutkan, semua kegiatan ini dilaksanakan dengan gotong royong dan sukarela. Warga hanya mengharapkan berkah dengan terus melestarikan budaya leluhur.

"Di sini masih kental nilai kegotong-royongan, mulai muda sampai tua. Mulai bersih-bersih, menghidangkan makanan sampai proses ritual selesai. Karena hanya ingin keberkahan. Bayangkan ini baju petilasan orang meninggal, tapi mereka sangat menghormati," papar Agus.

Selain tradisi Resik Lawon, untuk menghargai Buyut Cungking warga juga menyelenggarakan Selamatan Bersih Desa, ritual tahunan ke Gunung Baluran, Resik Kagungan di bulan yang lain.

"Kalau Resik Lawon harus di bulan Ruwah (menghadapi bulan puasa, dipilih Hari minggu dan Kamis yang jatuh pada tanggal 12, 13, 14 atau 15," ujarnya.

Buyut Cungking, diperkirakan hidup di era Kerajaan Blambangan saat tinggal di Keraton Macan Putih pada 1536-1530. Buyut Cungking dikenal dengan nama Ki Wongso Karyo yang bertugas menjadi penasehat Raja Tawangalun.

"Setelah beliau meniggal, kerajaan macan putih buyar. Kalau yang dibaluran, itu tempat penggembalaannya buyut," jelasnya.

(MH/MUA)
  1. Seni dan Budaya
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA