1. BANYUWANGI
  2. SENI DAN BUDAYA

Petani Kenjo Banyuwangi hormati sapi dengan menjadi sapi-sapian

Nenek moyang mereka yang dipanggil Mbah Daeng bersama leluhur lain lalu menggelar selamatan desa dengan tradisi Sapi-sapian.

Tradisi sapi-sapian di Desa Kenjo Banyuwangi. ©2018 Merdeka.com Reporter : Mohammad Taufik | Senin, 17 September 2018 11:42

Merdeka.com, Banyuwangi - Masyarakat tani Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki tradisi unik untuk menghormati sapi yang menjadi bagian dari asal-usul kampung mereka. Pada masa awal pemukiman dibuka, kerbau yang memasuki desa langsung mati, sehingga hanya sapi yang bisa dipelihara dan dimanfaatkan warga untuk bertani.

Nenek moyang mereka yang dipanggil Mbah Daeng bersama leluhur lain lalu menggelar selamatan desa dengan tradisi Sapi-sapian. Dua orang pria menjadi sapi-sapian mengenakan kostum dan aksesoris sapi diarak keliling desa, kemudian masuk ke sepetak sawah berlumpur untuk membajak dan meratakan tanah agar siap ditanami.

Setelah sapi-sapian naik dari lumpur, giliran ibu-ibu buruh tani yang turun menanam padi di tanah bekas bajakan. Perempuan-perempuan Kenjo yang biasanya menerima upah Rp 25 ribu setelah kerja 6 jam per hari di sawah itu lalu mencabuti rumput di petakan sebelahnya yang padinya telah tinggi menghijau. Rumput di sawah harus dicabut agar tidak merebut nutrisi untuk padi sehingga tanaman penghasil beras itu bisa tumbuh optimal.

"Dulu bertani hanya bisa menggunakan sapi, lalu hasil panen melimpah. Leluhur kita Mbah Daeng dan yang lain ingin mengadakan selamatan desa sebagai ucapan syukur kepada Tuhan," kata Ketua Adat Desa Kenjo Ahmad Taulik, Minggu (16/9).

Sehari sebelumnya juga digelar lomba menginang nenek-nenek, lomba menangkap ikan dengan jaring, selamatan 1.000 tumpeng dan Ider Bumi atau pawai oncor (obor) keliling desa malam hari. Nanti malam juga digelar doa bersama sebagai kegiatan penutupan.

"Setiap ada acara besar seperti Gandrung, Barong, Sapi-sapian, harus ditutup dengan doa bersama. Harapannya sampai tahun depan tidak ada hama penyakit untuk tanaman dan masyarakat tetap tentram dan sehat," kata Taulik lagi.

Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PD Aman) Banyuwangi Agus Hermawan mengatakan acara tahunan itu mengalami kemajuan kali ini. Selain lebih ramai, ada proses kaderisasi masyarakat adat Kenjo dalam melaksanakan tradisi Sapi-sapian.

Bila tahun-tahun sebelumnya yang ditugasi pria tua, kali ini yang menjadi sapi adalah pemuda desa. Dia mengatakan tradisi selama 2 hari itu untuk memperlihatkan rutinitas warga Kenjo sehari-hari dalam setahun, dari bertani hingga menangkap ikan untuk lauk.

"Sapi punya banyak manfaat, secara fisik digunakan untuk membajak sawah dan ketika disembelih, dagingnya bisa dikonsumsi. Di sini yang lebih diagungkan adalah manfaat sapi untuk mengolah Bumi menghasilkan makanan," katanya.

Sementara Muslih (25) yang bertugas menjadi sapi mengaku telah berlatih pada para tetua desa seminggu terakhir. Dia dan Rizal (18) rekannya mengaku beban di pundaknya cukup berat saat mereka memanggul alat bajak tradisional dan menariknya mengelilingi sawah.

"Saya jadi sapi-sapian meneruskan yang tua dulu. Pemuda di sini juga sebagian bekerja tani, tapi tidak semua, sebagian lagi kerja (kuli) bangunan di sekitar Banyuwangi," paparnya.

(MT/MT) Laporan: Ahmad Suudi
  1. Seni dan Budaya
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA