1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Perjuangan nelayan kembalikan surga terumbu karang Pantai Bangsring

Dulu para nelayan merusak terumbu karang, sekarang mereka sadar dan membenahi.

©2016 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Jum'at, 01 April 2016 11:50

Merdeka.com, Banyuwangi - Masih terekam jelas dalam ingatan Ikhwan Arief (32). Bagaimana para nelayan pantai Bangsring, Wongsorejo, mencari ikan hias dengan cara instan, menggunakan bahan kimia potassium dan bom ikan. Tanpa mereka sadari, cara instan tersebut telah merusak terumbu karang Pantai Bangsring. Terumbu karang rusak, ikan hias semakin sepi.

Ikhwan sendiri pernah menjadi pelaku perusak terumbu karang pantai Bangsring. Setelah para nelayan mulai kesulitan mencari ikan hias, perlahan muncul kesadaran pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang.

Sejak 2008, Ikhwan memberanikan diri menjadi penggerak nelayan untuk mengembalikan surga terumbu karang Pantai Bangsring. “Awalnya sulit. Banyak yang nentang, ngancem. Dikira saya mengganggu mata pencaharian mereka,” tuturnya kepada Merdeka Banyuwangi, Selasa (29/3).

Usaha Ikhwan untuk mengumpulkan nelayan dia lakukan secara perlahan. Mulanya dia mengajak tokoh agama untuk turut serta menyadarkan para nelayan, melalui kotbah Salat Jumat. “Selama satu bulan, khotbah di Masjid. Untuk larangan jangan merusak karang,” ujarnya.

Saat berupaya menyadarkan para nelayan, Ikhwan menjamin tidak akan mengganggu perekonomian mereka. Status Ikhwan sebagai orang terdidik dan nelayan asli Pantai Bangsring juga membantu proses penyadaran tersebut. Apalagi kata dia, nelayan Pantai Bangsring memiliki filosofi kuat, “lebih baik mati daripada lapar”.

“Saya diuntungkan karena dari kakek nelayan, ayah saya dulu nelayan pengepul. Saya juga nelayan. Jadi bahasa yang digunakan bahasa nelayan, termasuk sifat dan cara bersikap. Karena demi mencari sesuap nasi mereka rela mati. Kami yakinkan tidak akan ganggu, justru membantu pendapatan,” ujar sarjana Unisma Malang ini.

Sampai akhirnya, Ikhwan berhasil mengumpulkan para nelayan di MTS Miftahul Arifin pada 6 Januari 2008. Dari situ, muncul kesepakatan mendirikan Kelompok Nelayan Ikan Hias Samudera Bakti (KNIH-SB).

Salah satu tujuan KNIH-SB yakni menjaga dan merawat kelestarian terumbu karang di Pantai Bangsring. Ikhwan sendiri sebagai ketuanya.

Konservasi terumbu karang

Pantai Bangsring sudah menjadi sentra penghasil ikan hias sejak tahun 1960-an. Para nelayan lantas mulai menggunakan potassium dan bom ikan sekitar tahun 1970 sampai 2008. Bila dihitung, sudah 38 tahun pantai Bangsring mengalami kerusakan bertahap.

“Tahun 1970 sampai 2008, nelayan kita menggunakan putas dan bom. Jadi dulu yang karangnya bagus dan ikannya banyak jadi habis. Tinggal 18 persen yang hidup,” jelas Ikhwan.  

Mulai tahun 2008, melalui kelompok nelayan Samudera Bakti, para nelayan mulai menangkap ikan hias menggunakan jaring. Cara tradisional tersebut dinilai lebih ramah lingkungan. “Dulu tinggal nyemprot potassium ke karang, ikannya naik. Kalau sekarang, jaring ditaruh di timur, nelayan menggiring ikan dari barat,” jelasnya.  

Mulanya, jumlah anggota kelompok nelayan Samudera Bakti pada tahun 2008 hanya berjumlah 20 orang. Jumlah tersebut baru meningkat tajam setelah Pantai Bangsring mulai mendapat penghargaan dari pemerintah.

“Setelah dapat juara 2 Nelayan Teladan tingkat nasional, dari Kementerian Kelautan 2010. Mereka baru menyadari, kalau yang kami katakan itu benar. Dari situ mulai banyak nelayan yang bergabung. Ada sekitar 190-an orang,” kenangnya. Kata Ikhwan, jumlah tersebut masih bertahan sampai sekarang.  

Sejak 2010, Pantai Bangsring mendapat sederet penghargaan mulai dari pemerintah daerah, provinsi sampai kementerian. Hingga saat ini, Pantai Bangsring menjadi wilayah konservasi, sekaligus jadi lokasi wisata surganya terumbu karang.

Beberapa penghargaan yang sudah diperoleh nelayan Bangsring di antaranya, Juara I Pokmaswas Kabupaten Banyuwangi tahun 2010. Juara 1 Nasional, “Desa Percontohan Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil” dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2013. Penyuluh Perikanan Swadaya Terbaik dari Menko Bidang Kemaritiman Tahun 2015, dan masih banyak lagi.

Ikhwan sendiri juga mendapatkan juara 1 nasional, sebagai Pemuda Pelopor Bidang Kelautan dari Kemenpora tahun 2013. Ikhwan sampai saat ini masih menjabat sebagai ketua kelompok nelayan Samudera Bakti.

Beberapa program Samudera Bakti di antaranya, membuat transplantasi terumbu karang. Menanam  pohon vegetasi pantai untuk mencegah abrasi, penghijauan dan penahan angin. Ada juga kegiatan membuat terumbu karang buatan, untuk mengembalikan rumah ikan tersebut.  

“Terumbu karang buatan terbuat dari beton, biasanya setengah tahun bisa tumbuh terumbu karang,” jelas Ikhwan.

Semua biaya konservasi, kata Ikhwan berasal dari swadaya masyarakat. Kalaupun ada bantuan dari pemerintah, kata dia, hanya mau diberi dalam bentuk barang. “Hasilnya itu, seperti perahu, rumah apung, dan penyulingan air laut jadi air tawar,” ujarnya.

Di sisi lain, Yudhi, salah satu nelayan Pantai Bangsring mengatakan, tiap bulan dia dan nelayan lainnya cukup iuran Rp 5 ribu. “Itu iuran wajib. Tiap bula Rp 5 ribu,” ujar Yudhi.

Sejak tahun 2014, Pantai Bangsring mulai dikemas menjadi objek wisata. Terumbu karangnya yang sudah rimbun, tetap dijaga dan menjadi wilayah konservasi. Wilayah tersebut, juga dilindungi oleh Peraturan Desa No. 2 tahun 2009 tentang pengelolaan Zona Perlindungan Bersama (ZPB) seluas 1 Hektare. Serta diperkuat melalui Perda No 8 tahun 2012 dalam RTRW Kabupaten Banyuwangi.

Setelah menjadi objek Pariwisata, Ikhwan bersama para nelayan membuat kelompok dengan konsentrasi ke objek wisata bernama Bunder. Kelompok nelayan Samudera Bakti bagian konservasinya sedangkan Bunder bagian parawisatanya. “Tapi tetap orang orangnya sama,” tegas Ikhwan.

(MH/MUA)
  1. Wisata Alam
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA