1. BANYUWANGI
  2. PROFIL

Nanang Kosim penyandang tuna netra yang kuasai 17 nada azan

Cita-citanya, suaranya masuk dapur rekaman agar bisa diputar di seluruh masjid Indonesia.

©2017 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Sabtu, 03 Juni 2017 11:03

Merdeka.com, Banyuwangi - Suara Nanang Kosim (24) penyandang tuna netra asal Desa Labanasem, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi terdengar lantang dan merdu saat memekikkan salawat tarkhiem jelang azan salat zuhur di Masjid Baitul Muttaqin dekat rumahnya. Lewat suara merdu Nanang, Masjid Baitul Muttaqin tidak perlu memutar kaset qiroat maupun salawat tarkhiem setiap jelang waktu salat lima waktu.

Meski kondisi Nanang tuna netra, sejak lulus SD dia sudah rajin menghafal berbagai nada azan, qiroat dan salawatan yang sudah populer di televisi, radio, maupun dari dapur rekaman pita kaset dan kepingan CD. "Azan itu ada temporal lagu-lagunya. Sekarang saya hafal 17 lagu nada azan. 5 belajar dari saudara, lainnya belajar sendiri. Ada yang nada kenceng dan rendah. Tujuannya biar ganti-ganti dan jemaahnya semangat," ujar Nanang usai salat di Masjid Baitul Muttaqin, Selasa (30/5).

Siang itu, satu jam sebelum waktu ibadah salat zuhur dimulai, Nanang sudah terlihat berjalan menuju masjid. Setiap berangkat ke masjid dia memastikan bahwa perutnya harus dalam keadaan kosong, agar suaranya tetap lantang dan panjang.

"Satu jam sebelum azan harus kosong perutnya untuk menjaga kekuatan suara. Soalnya baca Qiroat 23 menit, azan, kemudian puji-pujian 2 menit," jelasnya.

Selain itu, Nanang juga rutin menjaga kualitas suara dengan rutin menyelam sambil teriak di dalam air dengan durasi maksimal 1,5 menit. Dari 17 jenis nada azan yang dia kuasai, Nanang berharap bisa menambah jumlah orang muslim agar rajin salat berjamaah. Terutama bagi generasi muda seusianya.

"Tadi nada azan zuhur hari ini umum. Nada azan untuk hari Senin, Selasa, sampai hari Minggu seperti apa. Semua saya atur biar tidak bosen," lanjutnya sambil mempraktekkan jenis nada-nada azan yang sudah dia jadwalkan.

Nanang memang sempat menempuh pendidikan SD umum, namun tidak melanjutkan akibat baru mengetahui bahwa ada pendidikan khusus penyandang disabilitas. Dalam waktu dekat, dia akan melanjutkan di SLB untuk belajar huruf braille.

"Sementara ini masih metode menghafal, ada yang bacakan, direkam," ujarnya.

Meski keseharian Nanang hanya di rumah, dan rajin memekikkan suara merdunya di masjid setiap ibadah lima waktu, dia sudah bisa mendapatkan penghasilan dari suaranya. Beberapa kali, masyarakat sekitar sering mengundangnya untuk jadi muazin di masjid lain, baca Qiroat dan bermain musik hadrah di acara pernikahan.

Ke depan, Nanang bercita-cita ingin suaranya bisa masuk ke dapur rekaman sehigga bisa diputar di masjid-masjid seluruh Indonesia. Kemudian, dia ingin bisa azan di Masjid Al Akbar Provinsi Surabaya.

"Saya sudah pernah ke sana jauh-jauh tapi tidak boleh, karena sudah ada yang orang pastinya," ujarnya.

Nanang mengatakan kondisi penglihatannya sudah terganggu sejak lahir. Kemudian semakin bertambah usia, sedikit demi sedikit penglihatannya semakin hilang. "Sekarang penglihatan saya tinggal 5 persen," ujar pria dari pasangan Jubaidi dan Sumaiyah ini.

Sementara itu, ketua tamkir Masjid Baitul Muttaqin Burhadi (64) mengatakan sejak tahun 2000-an, sudah tidak menggunakan kaset setiap ibadah jamaah lima waktu. "Sejak Nanang azan di sini sudah tidak pakai kaset. Kondisi masjid seperti ini, hanya bisa bantu per bulan bulan kami kasih Rp 300 ribu," ujarnya.

(MH/MUA)
  1. Ramadan 2017
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA