1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI

Buat biopori di perumahan, warga Banyuwangi ajak manfaatkan limbah rumah tangga

Satu lubang biopori ini sudah cukup untuk menampung sampah organik dari satu rumah tiap hari.

©2018 Merdeka.com Reporter : Mohammad Ulil Albab | Sabtu, 27 Oktober 2018 07:44

Merdeka.com, Banyuwangi - Novian Dharma Putra, sejak setahun terakhir berupaya mengajak warga di lingkungan perumhannya, Agus Salim Residence, Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi untuk membuat biopori untuk meningkatkan resapan air ke dalam tanah, sekaligus menjadi tempat membuat pupuk kompos. Saat ini, di lingkungan perumahannya sudah terdapat 24 lubang biopori, dengan Satu lubang biopori di masing-masing rumah.

"Satu lubang biopori ini sudah cukup untuk menampung sampah organik dari satu rumah tiap hari. Rata-rata satu hari di rumah saya menghasilkan sampah satu kilo, itu cukup saya masukkan ke satu lubang terus menerus," kata Novian saat ditemui di rumahnya, (26/10).

Kawasan perumahan yang dipaving, kata dia, sangat cocok diberi lubang biopori untuk membantu resapan air, serta mengantisipasi terjadinya genangan hingga banjir.  

"Ide pertama dapat materi dari profesor Intitut Pertanian Bogor, saat mengikuti pelatihan di Malang, ada kawasan yang rawan banjir, setelah adanya biopori akhirnya bisa tidak terdampak banjir kembali. Jadi bisa mengkonservasi air agar kembali ke tanah, karena semakin banyak kawasan yang dibeton, paving membuat air sulit terserap ke tanah," terangnya.

Dari gagasan tersebut, Novian coba mengajak warga di lingkungan perumahannya untuk membuat biopori. Alat untuk mengebor lubang dengan kedalaman maksimal satu meter, dia buat sendiri dari besi-besi bekas. "Ya warga lingkungan sini banyak yang tertarik, tapi sementara ini dari 24 lubang biopori masih ada 12 lubang yang aktif dimanfaatkan untuk produksi kompos sama warga, ya karena proses untuk membiasakan diri memanfaatkan sampah organiknya," terangnya.

Novian kemudian menunjukkan cara membuat dan proses kerja lubang biopori. Setelah membuat lubang silindris secara vertikal ke tanah dengan kedalaman maksimal satu meter, selanjutnya diberi tambahan pipa ukuran 3 dim sesuai panjang kedalaman. "Diberi tambahan pipa tergantung tekstur tanah, fungsinya bair tidak erosi atau ambrol. Pipa cukup dilubangi bagian sisi sisinya untuk resapan jalan air," katanya.

Sementara untuk pemanfaatkan produksi kompos, Novian cukup memasukkan beragam sampah organik seperti sisa potongan sayur, kulit buah, tulang ikan, dan dedaunan. Sebelum dimasukkan ke dalam lubang biopori, dia menyemprotkan mikro organisme local (mol) yang mudah ditemui di pasaran untuk mempercepat proses pembusukan sampah.

"Kalau ada indikator cacing berarti bagus penguraiannya, dan ini dijamin tidak bau. Yang penting kedalaman lubangnya jangan lebih dari satu meter, karena kadar O2 lebih dari itu semakin sedikit, dan memperlambat penguraian sampah," jelasnya sambil menunjukkan hasil kompos yang dia panen.

Pupuk kompos yang dihasilkan dari lubang biopori, bisa dipanen 2-3 bulan sekali. Saat ini Novian sudah penen tiga kali, sejak pertama membuat lubang biopori. "Sementara masih digunakan untuk kebutuhan tanaman sendiri, ke depan lewat kelompok pupuk ini sangat potensial dijual," jelasnya.

Sejak akhir 2017, Novian di lingkungan perumahannya juga membaut kelompok belajar bernama Padepokan Agus Salim Residence (ASR). Kelompok tersebut mengajak Anak-anak untuk belajar sambil bermain, terutama untuk mencintai permainan tradisional dan mengenal pengetahuan lingkungan di sekitarnya.

"Lewat Padepokan ASR harapannya bisa menjadikan warga guyup, dan memanfaatkan lahan semaksimal mungkin. Serta ada dampak ekonomi, lingkungan dan sosial," katanya. Saat ini, dia dan warga sekitar juga memanfaatkan saluran pembuangan air (got) di perumahannya yang tidak berfungsi untuk budidaya ikan lele menggunakan air bersih. Sudah lebih dari 4 titik kolam lele yang dikelola warga.

"Perlahan kami ingin menjadikan hunian di perumahan serasa desa tetapi ada di kota. Budidaya kolam lele di got, biopori, bank sampah, bagian dari itu," katanya.

Sementara itu, Afif (11) salah satu anak yang tinggal di perumahan ASR juga turut aktif mengelola lubang biopori. "Saya suka cocok tanam, di rumah ada tanaman sayur dan cabe, saya rawat pakai pupuk dari biopori ini," katanya.

(MH/MUA)
  1. Tanaman
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA